Lapar Mata Berburu Takjil, Dompet Bisa Terancam

Kantamedia.com – Menjelang waktu berbuka puasa, deretan pedagang takjil memadati pinggir jalan di Palangka Raya dengan aneka gorengan, es buah, dan makanan manis. Di tengah suasana Ramadan, fenomena membeli takjil berlebihan atau dikenal sebagai lapar mata kerap terjadi dan berdampak pada pemborosan.

Kondisi ini muncul karena tubuh yang menahan lapar cenderung menurunkan kemampuan berpikir rasional. Akibatnya, keputusan pembelian menjadi impulsif dan tidak terencana.

Selain itu, euforia Ramadan yang hanya datang setahun sekali turut memicu keinginan mencoba berbagai menu, termasuk makanan yang sedang viral. Harga yang relatif terjangkau per item juga membuat masyarakat merasa tidak keberatan, meski jika diakumulasi setiap hari dapat membebani anggaran hingga jutaan rupiah.

Dampak belanja takjil berlebihan tidak hanya pada keuangan keluarga, tetapi juga berisiko menimbulkan pemborosan makanan. Takjil yang tidak habis dikonsumsi kerap terbuang percuma.

Konsumsi berlebihan makanan manis dan gorengan juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Pola makan yang tidak terkontrol saat berbuka dapat memicu gangguan pencernaan dan kenaikan berat badan.

Untuk menghindari hal tersebut, masyarakat disarankan membuat daftar belanja sebelum berangkat ke pasar Ramadan dan menetapkan anggaran harian. Belanja sebelum terlalu lapar juga membantu mengurangi pembelian impulsif.

Selain itu, prioritaskan menu yang benar-benar akan dikonsumsi, kombinasikan membeli dan memasak sendiri, serta beli dalam porsi kecil. Hindari mengikuti tren tanpa pertimbangan dan lakukan evaluasi pengeluaran secara berkala.

Dalam strategi keuangan Ramadan, dari penghasilan Rp5.000.000 misalnya, alokasi dapat dibagi 50 persen kebutuhan rutin, 20 persen tabungan, 10 persen zakat atau sedekah, 10 persen kebutuhan tambahan Ramadan, dan 10 persen persiapan Lebaran. Dari pos Ramadan, maksimal 30–40 persen dialokasikan untuk takjil agar pengeluaran tetap terkendali.

Mengurangi risiko mubazir dapat dilakukan dengan membeli sesuai kebutuhan, tidak mengambil terlalu banyak variasi sekaligus, serta menyimpan makanan yang masih layak untuk sahur. Utamakan kualitas dan nilai gizi agar tubuh tetap bugar selama berpuasa.

Dengan konsumsi yang terkontrol, pengeluaran menjadi stabil, tidak ada makanan terbuang, dan pola makan lebih sehat. Ramadan pun dapat dijalani dengan keseimbangan finansial, kesehatan, dan spiritual yang lebih baik. (Mhu).

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *