Kantamedia.com – Karakteristik genetik berupa golongan darah seseorang ternyata memiliki kaitan erat dengan tingkat risiko terserang stroke di usia muda. Temuan ini mematahkan anggapan umum bahwa gangguan kardiovaskular tersebut hanya mengintai kelompok lanjut usia.
Jenis Golongan Darah
Secara umum, sistem klasifikasi darah manusia terbagi menjadi empat kelompok utama berdasarkan keberadaan antigen A dan B pada sel darah merah, yaitu A, B, AB, dan O. Selain antigen, tim medis juga mengidentifikasi protein spesifik yang disebut faktor Rhesus (Rh). Kehadiran protein ini menentukan apakah status darah seseorang dikategorikan sebagai rhesus positif (+) atau rhesus negatif (-).
Kombinasi antara antigen dan rhesus tersebut menghasilkan delapan variasi golongan darah yang kita kenal saat ini, yaitu:
- A positif (A+) dan A negatif (A-)
- B positif (B+) dan B negatif (B-)
- AB positif (AB+) dan AB negatif (AB-)
- O positif (O+) dan O negatif (O-)
Memahami tipe darah ini sangat krusial, bukan hanya untuk keperluan mendesak seperti prosedur transfusi darah dan transplantasi organ, melainkan juga untuk mendeteksi kerentanan tubuh terhadap ancaman penyakit mematikan seperti stroke.
Kaitan Golongan Darah dengan Stroke
Riset terbaru menunjukkan adanya korelasi signifikan antara variasi genetika darah tertentu dengan potensi serangan otak pada usia produktif. Berdasarkan studi yang dimuat dalam jurnal Neurology tahun 2022, individu dengan subkelompok varian genetik A1 memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami stroke sebelum menginjak usia 60 tahun.
“Temuan penting dan mengejutkan ini menambah pemahaman kita mengenai faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah, termasuk golongan darah seseorang,” ungkap Mark Gladwin, seorang dokter sekaligus ilmuwan dari University of Maryland, sebagaimana dilansir dari Science Alert.
Meskipun publik secara luas hanya akrab dengan empat tipe utama, mutasi genetik spesifik melahirkan variasi yang lebih mendalam di setiap kelompoknya. Melalui analisis terhadap 48 studi genetika yang mencakup 17.000 pasien stroke serta hampir 600.000 responden sehat berusia 18 hingga 59 tahun, para peneliti menemukan bahwa pemilik genetik A1 menghadapi peningkatan risiko hingga 16 persen untuk mengalami stroke dini dibandingkan kelompok darah lainnya.
Sebaliknya, pemilik kode genetik O1 justru memperlihatkan kondisi yang lebih aman, dengan penurunan risiko sekitar 12 persen. Dalam ranah medis dan genetika, istilah A1 dan O1 merujuk pada alel atau variasi gen yang jauh lebih spesifik dibandingkan klasifikasi ABO konvensional.
Steven Kittner, ahli neurologi vaskular dari University of Maryland, menyoroti tren mengkhawatirkan mengenai lonjakan kasus pada kelompok usia produktif.
“Orang yang mengalami stroke di usia muda memiliki risiko kematian lebih tinggi. Mereka yang selamat juga berpotensi hidup dengan disabilitas selama puluhan tahun. Sayangnya, penyebab stroke pada usia muda masih belum banyak diteliti,” jelas Kittner.


