Waspada Stroke Usia Dini, Pemilik Golongan Darah Ini Lebih Rentan

Melalui pemetaan genom, tim ilmuwan berhasil melacak dua area gen yang berkontribusi kuat terhadap risiko tersebut, di mana salah satunya terletak pada lokus gen ABO. Walau demikian, masyarakat diimbau tidak panik karena peningkatan risiko pada pemilik golongan darah A relatif kecil sehingga tidak memerlukan pemeriksaan medis tambahan yang berlebihan.

Kittner menambahkan bahwa penyebab pasti fenomena ini masih misterius. Namun, dugaan kuat mengarah pada mekanisme pembekuan darah yang melibatkan fungsi trombosit, sel pelapis pembuluh darah, serta protein sirkulasi penstimulasi sumbatan.

Risiko Tetap Dipengaruhi Banyak Faktor

Kendati riset ini menyuguhkan fakta baru, karakteristik darah bukanlah variabel tunggal yang memicu gangguan pembuluh darah otak. Di Amerika Serikat saja, hampir 800 ribu orang menderita serangan ini setiap tahun, dengan mayoritas pasien berusia di atas 65 tahun. Pola data menunjukkan ancaman ini berlipat ganda setiap dekade setelah seseorang melewati usia 55 tahun.

Keterbatasan riset ini terletak pada homogenitas sampel, karena hanya sekitar 35 persen partisipan yang berasal dari kelompok non-Eropa (dengan mayoritas data dari Amerika Utara, Eropa, Jepang, Pakistan, dan Australia). Oleh sebab itu, diperlukan studi lanjutan dengan populasi global yang lebih heterogen.

Fakta menarik lainnya muncul saat peneliti membandingkan kelompok usia di bawah dan di atas 60 tahun. Hubungan antara golongan darah A dan kerentanan stroke ternyata memudar pada lansia. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan mekanisme serangan antara usia muda dan tua. Pada kelompok muda, pemicu utamanya cenderung berupa gangguan pembentukan bekuan darah, berbeda dengan lansia yang umumnya dipicu oleh aterosklerosis atau penumpukan plak lemak di dinding pembuluh darah.

Selain tipe A, pemilik golongan darah B juga mencatatkan kerentanan 11 persen lebih tinggi terserang stroke tanpa memandang faktor usia. Studi terdahulu pun sempat mengaitkan gen ABO dengan masalah kardiovaskular lain, mulai dari kalsifikasi arteri koroner, serangan jantung, hingga trombosis vena mendalam.

Apa Itu Stroke?

Secara definitif, stroke merupakan situasi darurat medis akut akibat terhentinya suplai darah menuju otak, baik karena adanya sumbatan ataupun pendarahan, yang memicu kematian sel-sel saraf serta kelumpuhan fungsi tubuh.

Dokter spesialis neurologi, dr. Ricky Gusanto Kurniawan, SpN, SubspNIIO (K), FINR, memaparkan bahwa penyakit ini terbagi ke dalam dua jenis utama, yakni iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik terjadi karena adanya sumbatan aliran darah yang memasok otak, sedangkan tipe hemoragik dipicu oleh pecahnya pembuluh darah yang mengakibatkan akumulasi darah menekan jaringan otak di sekitarnya.

“Kalau jaringan otak sekitarnya ketekan (akibat perdarahan) ya apa yang terjadi? Bengkak, tambah bengkak jaringan otaknya. Ketika darahnya menekan batang otak, ya sudah, napasnya terganggu, kemudian pasiennya nggak sadar, bahkan kekuatan ototnya semua, ya hilang,” papar dr. Ricky seperti dikutip dari detikcom.

Gejala klinisnya kerap datang secara mendadak, sering kali diawali dengan nyeri kepala hebat yang disertai mual, muntah, hingga penurunan kesadaran yang drastis pada kasus hemoragik.

“Stroke itu ngagetin banget. Bisa kayak ‘orang tadi lagi makan kok, gak apa-apa kok lagi ngobrol sama saya, tiba-tiba ibu nyeri kepala hebat terus nggak sadar Dok’. Itu kan mendadak banget,” pungkasnya. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *