Karhutla Kalteng Memburuk, Penambahan Hotspot Tertinggi

Kantamedia.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tambahan 876 titik panas atau hotspot dalam pemantauan terbaru, sehingga total hotspot di provinsi tersebut mencapai 5.391 titik.

Peningkatan titik panas itu turut diikuti kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalteng. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang turun drastis, yakni hanya sekitar 1 hingga 1,5 kilometer, sehingga berpotensi mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kenaikan hotspot harian di Kalteng menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lain yang turut dipantau.

“Namun, di Kalimantan Tengah, titik panas bertambah 876 titik, sedangkan di Kalimantan Selatan turun sebanyak 279 titik. Dampaknya, jarak pandang relatif sangat rendah, hanya berkisar antara 1 sampai 1,5 kilometer,” kata Berton dalam konferensi pers daring, Minggu (30/8/2026).

Kabut asap dengan jarak pandang rendah tersebut tidak hanya berpotensi menghambat mobilitas warga, tetapi juga dapat memengaruhi transportasi darat, sungai, dan udara. Paparan asap dalam waktu lama juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

Hotspot Kalimantan Fluktuatif

Perkembangan karhutla di Pulau Kalimantan tidak seragam. Di Kalimantan Selatan (Kalsel), jumlah hotspot tercatat menurun menjadi 1.077 titik. Penurunan juga terjadi pada jumlah titik api atau fire spot yang kini berada di angka 52 titik.

Berbeda dengan Kalsel, Kalimantan Barat (Kalbar) kembali mencatat kenaikan hotspot. Namun, jumlah titik api di provinsi tersebut justru berkurang setelah dilakukan penanganan di lapangan.

“Di Kalimantan Barat kita lihat di sini hotspot hari ini memang bertambah lagi, sebanyak 453 titik. Namun, untuk titik apinya turun menjadi 16 yang tadinya 23 titik,” ujar Berton.

Menurut Berton, penurunan titik api menjadi indikator positif yang perlu dipertahankan melalui penanganan langsung di lapangan. Pola tersebut diharapkan dapat diterapkan di provinsi lain yang menghadapi ancaman karhutla.

“Kita harap pada lain waktu hal (positif) seperti ini bisa terjadi di provinsi-provinsi lain. Demikian juga di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan terjadi penurunan titik api,” tuturnya.

Sumatera Masih Diselimuti Kabut Asap

Ancaman karhutla juga masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera, terutama Sumatera Selatan (Sumsel), Riau, dan Jambi. Di Sumsel, hotspot turun menjadi 804 titik. Namun, fire spot meningkat delapan titik menjadi 18 titik. Kondisi tersebut berdampak terhadap jarak pandang yang tercatat sekitar 2,4 kilometer.

“Di Sumatera Selatan, titik panas signifikan berkurang menjadi 804 titik, sedangkan titik apinya bertambah 8 menjadi 18 titik. Jarak pandang (hanya tersisa) 2,4 kilometer,” kata Berton.

Di Riau, hotspot turun menjadi 264 titik. Kendati demikian, jumlah titik api meningkat menjadi 12 titik dengan jarak pandang sekitar 5 kilometer.

“Di Riau kami catat terjadi penurunan titik panas, tetapi ada peningkatan titik api menjadi 12 titik, dan jarak pandang hanya 5 kilometer,” ujarnya.

Sementara itu, Jambi mengalami kenaikan hotspot menjadi 135 titik. Jumlah titik api masih bertahan pada angka empat titik, sedangkan jarak pandang berada di kisaran 3,5 kilometer.

“Di Jambi titik panas bertambah menjadi 135 titik, sedangkan titik api tetap 4 titik dengan jarak pandang sekitar 3,5 kilometer,” kata Berton.

Patroli dan Modifikasi Cuaca

BNPB bersama Satuan Tugas (Satgas) Karhutla terus memperkuat upaya penanganan di daerah terdampak. Patroli darat dilakukan untuk mendeteksi sekaligus memadamkan titik api, sementara operasi modifikasi cuaca terus dilakukan guna membantu menekan potensi meluasnya kebakaran.

Masyarakat yang berada di kawasan terdampak kabut asap juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker dianjurkan untuk mengurangi paparan asap yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dengan kondisi hotspot yang masih berubah-ubah, percepatan pemadaman dan kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengendalikan karhutla. Langkah tersebut diperlukan agar kebakaran tidak meluas dan kabut asap tidak semakin mengganggu aktivitas serta keselamatan warga. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *