Kantamedia.com – Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui unit Karantina Jambi menjamin kesehatan 262.240 batang bibit eukaliptus (Eucalyptus sp) yang didistribusikan menuju Kalimantan Tengah melalui kargo Bandara Sultan Thaha Jambi pada Jumat (12/6/2026). Komoditas berprospek cerah dengan taksiran nilai ekonomi sebesar Rp224.400.000 ini dinyatakan terbebas dari ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).
Kepala Karantina Jambi, Sudiwan Situmorang, menegaskan bahwa pengetatan lalu lintas komoditas nabati menjadi hal krusial demi memproteksi produktivitas sektor kehutanan maupun perkebunan domestik dari risiko penularan hama tanaman.
“Karantina berperan memastikan setiap media pembawa tumbuhan yang dilalulintaskan antararea memenuhi persyaratan kesehatan tumbuhan. Melalui pemeriksaan lapangan dan pengujian laboratorium, kami berupaya memberikan pelindungan maksimal agar komoditas yang dikirim aman serta tidak menjadi sarana penyebaran OPTK ke wilayah tujuan,” kata Sudiwan, dikutip dari laman karantinaindonesia.go.id, Minggu (14/6/2026).
Tren pengiriman komoditas kehutanan ini tercatat mengalami eskalasi yang signifikan. Merujuk data sistem Best Trust, aktivitas pengiriman perdana baru dimulai pada Desember 2025 dengan frekuensi tiga kali angkut sebanyak 70.420 pohon. Namun, memasuki pertengahan tahun 2026, volume pengiriman melonjak tajam hingga menyentuh angka 310.440 batang dalam empat kali masa pengapalan.
Sudiwan memaparkan bahwa kelancaran distribusi ratusan ribu bibit eukaliptus ini merupakan representasi nyata dari sokongan pemerintah terhadap program perluasan kawasan industri hijau nasional. “Melalui pengawasan karantina yang ketat dan kolaborasi dengan pelaku usaha, distribusi komoditas tumbuhan dapat berlangsung lancar sekaligus tetap menjaga keamanan hayati Indonesia,” terangnya.
Sebelum dokumen sertifikasi resmi diterbitkan, tim ahli Karantina Jambi terlebih dahulu melaksanakan observasi lapangan langsung ke area pembibitan awal (pre nursery). Proses skrining difokuskan untuk mendeteksi keberadaan mikroba Austropuccinia psidii, sejenis cendawan patogen pemicu penyakit karat daun yang kerap menyerang famili Myrtaceae.
Berdasarkan hasil uji sampel biologis di laboratorium tanaman, seluruh vegetasi tersebut dipastikan berada dalam fase vegetatif yang prima dan bermutu tinggi. “Tidak ditemukan gejala visual yang mengarah pada keberadaan Austropuccinia psidii, yang mengindikasikan bahwa proses produksi dan pemeliharaan bibit telah dilakukan dengan baik sehingga tidak berpotensi menyebarkan penyakit di daerah tujuan,” pungkas Sudiwan. (*/pri)


