Garut, Kantamedia.com – Kelompok 16 Mahasiswa KKN Tematik Universitas Garut (UNIGA) menyelenggarakan rangkaian program penguatan karakter bagi siswa-siswi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Ar-Raudhotun Nur, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kegiatan edukatif yang memadukan sosialisasi pencegahan perundungan (anti-bullying) serta penayangan film reflektif ini dirancang untuk menanamkan nilai empati sosial dan rasa hormat kepada orang tua sejak dini.
Empat mahasiswa penggerak kegiatan tersebut terdiri dari Adi M Rizki dari Fakultas Teknik (FTEKNIK), Devi Nuraeni dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), serta Rosa Desviani Azzahra dan Nisya Triani dari Fakultas Ekonomi (FEKON). Kehadiran tim mahasiswa di lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian terintegrasi dari pelaksanaan agenda pengabdian masyarakat program KKN perguruan tinggi.
Edukasi Pencegahan Perundungan dan Penguatan Empati
Dalam sesi utama sosialisasi, tim KKN Tematik memaparkan pentingnya menciptakan iklim sekolah yang aman, inklusif, serta bebas dari segala bentuk intimidasi. Para siswa diajak memahami bahwa aksi perundungan—baik berupa verbal, perlakuan fisik, maupun pengucilan sosial—dapat memberikan dampak psikologis mendalam bagi korban.
Para pelajar didorong untuk senantiasa menjaga tutur kata dan tindakan dalam berinteraksi sehari-hari. Mahasiswa menekankan bahwa gurauan yang dianggap biasa oleh satu individu dapat dipersepsikan berbeda dan melukai perasaan kawan lainnya. Oleh karena itu, para siswa diimbau untuk saling menghargai perbedaan, menghentikan kebiasaan mengejek, serta berani melaporkan indikasi perundungan kepada pihak pengajar.
Perwakilan mahasiswa KKN Tematik, Nisya Triani, menggarisbawahi bahwa kampanye yang mereka usung bertujuan membentuk norma perilaku kolektif yang positif di lingkungan madrasah.
“Gerakan anti-bullying bukan hanya tentang mengatakan ‘jangan membully’, tetapi bagaimana kita membangun kebiasaan untuk saling menghargai. Kita ingin anak-anak memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang harus dijaga,” ujar Nisya Triani di sela-sela kegiatan.
Pendidikan Karakter Berbasis Refleksi Keluarga
Sebagai bagian dari pendekatan edukasi emosional, agenda dilanjutkan dengan kegiatan nonton bersama film edukatif berjudul “Es Krim Terakhir dari Ayah”. Penayangan audio-visual ini difungsikan sebagai media perenungan untuk memperkuat ikatan batin antara anak dan orang tua.
Melalui jalan cerita film tersebut, para siswa diajak mengapresiasi pengorbanan serta kasih sayang orang tua yang kerap diwujudkan dalam tindakan sederhana sehari-hari. Peserta didik didorong untuk mengekspresikan rasa hormat di rumah melalui perilaku santun, membantu pekerjaan orang tua, serta membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf.
Nisya Triani menambahkan bahwa kebiasaan menghargai orang tua merupakan fondasi utama sebelum seorang anak mampu menghormati lingkungan sosial yang lebih luas.
“Menaruh rasa cinta terhadap orang tua menjadi fondasi utama bagi seorang anak atau pelajar. Ketika seorang anak belajar mencintai, menghormati, dan menghargai orang tuanya, nilai tersebut akan menjadi bekal untuk menghargai orang lain di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” kata Nisya.
Salah seorang pengajar MIS Ar-Raudhotun Nur, Insan Faisal Ibrahim mengaku menyambut positif sinergi lintas institusi ini. Metode penyampaian materi yang komunikatif dan aplikatif dinilai efektif dalam melengkapi pembelajaran akademis reguler.
“Integrasi sosialisasi dan media film ini diharapkan mampu membentuk kepribadian siswa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan kepedulian sosial yang tinggi,” ujarnya. (*/pri)


