Kantamedia.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi perhatian setelah sejumlah wilayah Kalimantan Selatan dilanda kebakaran. Kepulan asap pekat terlihat dalam sejumlah video yang beredar di media sosial.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Berdasarkan informasi dalam laporan pantauan satelit yang dikutip, luas wilayah terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 572 kilometer persegi. Namun, angka tersebut perlu dipastikan kembali melalui data resmi pemerintah dan lembaga terkait.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan satuan tugas penanganan karhutla masih melakukan upaya pemadaman melalui operasi darat dan udara di sejumlah provinsi terdampak.
“Sampai saat ini satgas penanganan karhutla, baik udara dan darat, terus menerus memberikan layanan terbaik untuk memadamkan api di beberapa provinsi terdampak karhutla,” kata Berton melalui pesan singkat, Kamis (20/8/2026).
Karhutla Berulang di Indonesia
Karhutla bukan persoalan baru di Indonesia. Sejumlah peristiwa besar pernah terjadi, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatra.
Salah satu kebakaran besar tercatat terjadi di Kalimantan Timur pada 1982-1983. Saat itu, fenomena El Nino memperparah kondisi kekeringan yang berlangsung cukup panjang.
Kebakaran tersebut diperkirakan menghanguskan sekitar 3,2 juta hektare kawasan di Kalimantan Timur. Peristiwa serupa kembali terjadi pada 1997-1998, 2006, 2015, hingga 2019 dengan dampak yang luas terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Karhutla 2015 bahkan menjadi salah satu peristiwa paling parah, dengan area terbakar mencapai sekitar 2,6 juta hektare serta menimbulkan gangguan kesehatan dalam skala besar.
Aktivitas Manusia Jadi Perhatian
Sejumlah kajian mengenai karhutla di Indonesia menunjukkan faktor manusia menjadi salah satu penyebab utama kebakaran.
Pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran masih dilakukan sebagian masyarakat maupun pelaku usaha karena dianggap lebih murah dan cepat. Namun, praktik tersebut memiliki risiko tinggi, terutama ketika dilakukan pada musim kemarau.
Kondisi menjadi semakin rentan ketika lahan gambut mengalami pengeringan. Gambut yang kehilangan kelembapan dapat terbakar hingga ke lapisan bawah permukaan tanah sehingga api sulit dideteksi dan dipadamkan.
Deforestasi, pembalakan liar, serta perubahan fungsi kawasan hutan juga dapat meningkatkan kerentanan lingkungan terhadap kebakaran.
Sementara itu, fenomena El Nino bukan menjadi penyebab langsung kebakaran, tetapi dapat memperpanjang musim kemarau dan menciptakan kondisi yang lebih kering sehingga api lebih mudah menyebar.
Dampak Tak Hanya pada Lingkungan
Karhutla membawa dampak multidimensi. Dari sisi lingkungan, kebakaran dapat merusak ekosistem, mengancam keanekaragaman hayati, serta meningkatkan emisi karbon.
Dari aspek kesehatan, kabut asap dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya.
Dampak ekonomi juga tidak kalah besar. Aktivitas pertanian, perdagangan, transportasi, hingga kegiatan masyarakat dapat terganggu ketika kualitas udara memburuk atau jarak pandang menurun.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah meluas. Upaya pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pengawasan kawasan rawan, pengelolaan lahan gambut, edukasi masyarakat, serta penyediaan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar.
Penguatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan juga menjadi bagian penting. Dengan tersedianya alternatif mata pencaharian dan metode pengelolaan lahan yang aman, ketergantungan terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar dapat ditekan.
Karhutla yang kembali terjadi menjadi pengingat, pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul. Kolaborasi pemerintah, aparat, perusahaan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mencegah bencana ekologis tersebut terus berulang. (Mhu).


