Pengertian Kearifan Lokal, Ciri-ciri dan Fungsinya

Ciri-ciri Kearifan Lokal

Kearifan lokal biasanya diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi serta melalui cerita dari mulut ke mulut. Bentuk kearifan lokal dalam masyarakat bisa berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus.

Mengutip Jurnal Nilai Kearifan Lokal Rumah Adat Tradisional Rungkoh di Gampong Kuto Kecamatan Kluet Tengah Aceh Selatan (2023) karya Ruhana dan kawan-kawan, kearifan lokal memiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dari pengetahuan atau praktik lain, yaitu:

  • Bersifat dinamis
  • Bersifat berkelanjutan
  • Diterima oleh anggotanya
  • Mampu bertahan dari budaya luar
  • Memiliki kemampuan mengkombinasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli
  • Mampu memberikan arah pada perkembangan budaya
  • Berkembang dari generasi ke generasi

Kearifan Lokal Ruwatan

Fungsi Kearifan Lokal

Kearifan lokal terbentuk sebagai proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhannya. Proses terbentuknya kearifan lokal sangat bergantung pada potensi sumber daya alam dan lingkungan serta dipengaruhi oleh pandangan, sikap, dan perilaku masyarakat setempat.

Selain itu, kearifan lokal juga merupakan bentuk kekayaan budaya yang harus digenggam teguh, terutama oleh generasi muda untuk melawan arus globalisasi. Dengan begitu karakteristik dari masyarakat daerah setempat tidak akan pernah luntur.

Kearifan lokal yang ada mungkin memiliki sifat yang sangat tradisional, tetapi keberadaan kearifan lokal sangatlah penting bagi masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan, kearifan lokal bukan hanya bisa dijadikan pedoman dalam bertindak maupun bersikap, tetapi juga memiliki fungsi tertentu.

Menurut Sartini dalam Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati (2004), kearifan lokal memiliki berbagai fungsi penting, antara lain:

Sebagai sarana konservasi dan pelestarian sumber daya alam

Contoh: Sistem pertanian Subak di Bali yang menjaga keseimbangan ekosistem dalam mengelola irigasi sawah.

Mengembangkan sumber daya manusia

Contoh: Upacara daur hidup seperti selamatan bayi (Tingkeban) atau tradisi sunatan yang menanamkan nilai-nilai sosial dan spiritual.

Mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan

Contoh: Batik yang diwariskan turun-temurun sebagai warisan budaya sekaligus teknologi tekstil khas Indonesia.

Bagikan berita ini