Kedua Terdakwa Ben Brahim S Bahat dan Ary Egahni Bacakan Pledoi

Mohon Majelis Hakim Agar Jatuhkan Putusan Bebas

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Sidang lanjutan di Tindak Pidana (Tipikor) PN Palangka Raya, Kamis, (30/11/2023), dengan agenda mendengarkan atau Pembelaan Dimana hal ini telah diatur dalam Pasal 182 ayat (1) KUHAP.

Dalam sidang tersebut Kedua terdakwa baik S. Bahat dan Ary Egahni memohon kepada majelis , agar menjatuhkan bebas atas dakwaan dan Jaksa Penuntut Umum KPK sebelumnya.

Terdakwa Satu Ben Brahim S Bahat dalam pembelaan menyebut, tuntutan jaksa tidak sesuai dengan fakta persidangan. Bahkan, fakta persidangan berbeda dengan yang tertuang pada surat dakwaan dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para saksi-saksi dalam berkas perkara.

”Sepertinya ada skenario untuk menghukum saya dengan berbagai cara, bahkan tuntutan jaksa sangat jelas mengabaikan fakta persidangan,”tutur Ben di hadapan Majelis Hakim.

Dia juga menyebut, bahwa keterangan saksi dibawah sumpah jelas menegaskan, bahwa dirinya tidak terbukti melakukan perbuatan sebagaimana dakwaan Jaksa KPU.

Ia memohon kepada majelis hakim agar memutuskan perkara ini berdasarkan fakta persidangan dan keterangan para saksi yang disampaikan di bawah sumpah di persidangan dan didukung oleh bukti-bukti lainnya.

Sementara itu, Terdakwa dua yaitu Ary Egahni saat membacakan pledoi pribadinya mengungkapkan, bahwa Dirinya mengaku hanyalah istri dari seorang bupati saat itu. Ia memohon agar keadilan berpihak kepada dirinya.

“Yang Mulia, Saya sudah menyampaikan kesaksian saya apa adanya, sesuai dengan kejadian sebenarnya, tanpa rekayasa apapun. Saya tidak pernah menerima gratifikasi seperti yang dituduhkan,” kata Ary Egahni.

Selanjutnya Istri Ben Brahim ini dengan berkaca-kaca tatkala menceritakan kehidupannya dengan sang suami hingga akhirnya sampai pada persidangan, yang membuat dirinya tak kuasa menahan tangisnya dalam persidangan.

“Majelis Hakim yang terhormat, saya dan suami tidak meminta, menerima atau membawa uang pembayaran kepada pegawai atau penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum,” jelasnya.

Masih dengan suara agak berat dan menahan tangis dalam persidangan, Ary Egahni mengaku tidak melakukan perbuatan yang didakwakan. Dirinya juga memohon kepada majelis hakim agar dapat menjatuhkan putusan bebas kepada dirinya.

Pada sidang Sebelummya, Jaksa KPK menuntut Ben Brahim dengan pidana penjara selama 8 tahun 4 bulan. Sementara itu Ary Egahni dituntut 8 tahun penjara.

Selain dengan tuntutan itu, JPU KPK juga menuntut agar majelis hakim menjatuhkan pidana denda, kepada para terdakwa masing-masing sebesar Rp. 500 juta subsider pidana kurungan selama 6 bulan.  (Mhu*) 

 

 

Bagikan berita ini