Antara Dendam dan Cinta

Oleh: Sri Rahmadani Siregar

SUDAH sepuluh menit Alya menatap amplop yang ada di dekat kotak surat itu. “Kalau nggak salah amplop ini sudah hampir seminggu disini. Tapi kok belum ada yang ngambil? punya siapa ya amplop ini?”

Penasaran, Alya mendekati kotak surat itu tempat Bu Siti biasa meletakkan surat untuk anak-anak kost nya.
“Buat Rosalinda”
Nama itu tertulis jelas di amplop itu. Alya mengerutkan keningnya. “Buat Rosa? Biasanya kan anak itu paling sibuk nanyain kalau-kalau dia dapat kiriman dari rumah atau kawan-kawan nya di kampung dulu. Apa mungkin ya, Rosa belum sempat mengambilnya?”
Alya menggelengkan kepalanya, membantah dugaannya, “ah… nggak mungkin lah dia nggak sempat mengambilnya!”

Sekedar ingin tahu, Alya mengangkat amplop itu, “apa ya isinya? ah….paling-paling juga isinya surat atau kiriman uang dari ibunya, ngapain juga sih
aku mikirin amplop kayak gini.”

Alya melirik nama si pengirim di sudut kiri atas amplop itu. Kayaknya dari laki-laki. Gadis itu mengangkat bahunya. Laki-laki itu kan bisa siapa saja, bisa abangnya, pacarnya, atau kawan-kawannya. Alya lalu meletakkan amplop itu lagi ke tempat semula.

Tanpa disadarinya “Sedang apa, Alya?”
Alya menoleh ke belakang, dilihatnya Bu Siti berdiri di belakangnya.
“Ah tidak, Bujing.. saya hanya heran melihat amplop ini kok belum diambil juga sama yang punya ya?”
Bu Siti mendekati amplop itu. “Kalau tidak salah amplop ini buat Rosa.”
Bu Siti mengamati kiriman itu sejenak. “Buat Rosalinda, ya benar buat Rosalinda. Kiriman ini datang lima hari yang lalu, tapi sampai saat ini Rosa belum mengambilnya. Apa dia tidak tau kalau ada kiriman untuk nya?” Bu Siti juga ikut-ikutan heran.
“Tapi mustahil,” bantahnya sejurus kemudian. “Kemarin dia ikut kok waktu anak-anak nanya soal surat.”
Bu Siti menoleh pada Alya. “Ya udah nanti Bujing kasih tahu Rosa,” ujarnya seraya berlalu ke kamar.

Belum sempat menutup pantu kamar, “Alya!!” Panggil Bu Siti sambil mengetok pintu kamar Alya. “Besok pagi kamu bantuin Bujing bersihin taman belakang ya?”.
Alya membuka pintu kamarnya “Ya Bujing!” Jawabnya singkat.
***

Paginya Alya langsung ketaman belakang untuk membantu Bu Siti, dari jauh dia melihat ada seorang gadis duduk di bangku taman.
“Rosa..??” Alya mengamati dengan lebih cermat.
“Ya benar Rosa, lagi ngapain ya dia?”

Alya menghampiri Rosa, namun ketika tiba di dekat gadis itu, nama Rosa yang sudah di ujung lidahnya urung terucap. Ada yang lain dalam diri Rosa. Rosa tengah melamun! Biasanya dia selalu penuh tawa sifatnya yang periang membuat dia mudah bergaul dengan siapa saja, memang terkadang dia terlalu ceplas ceplos dan cerewet, namun apapun yang dikatakannya Alya bisa melihat Rosa tidak pernah bermaksud menyakiti hati orang.

“Rosa,” Alya menyapa gadis itu hati-hati. Pelan, namun dia yakin Rosa dapat mendengarnya karna jarak mereka begitu dekat, tetapi Rosa sama sekali tidak bergeming.
“Rosa…” sapa Alya sekali lagi, kali ini suaranya lebih keras.
Mulanya Rosa diam saja, namun beberapa saat kemudian seperti tersadar dia berpaling kepada Alya.
“Kak Alya,” ucapnya agak kaget .
Alya tersenyum lembut seolah-olah tidak tahu keanehan sikap Rosa, Alya menepuk bahu gadis itu, “lagi ngapain? mau bersihin taman juga ya?” tanyanya setengah bercanda.
“Bersihin taman…??”
Rosa menatap Alya seolah-olah apa yang baru didengarnya adalah hal yang sangat asing. Jelas betul bahwa saat itu pikirannya entah kemana-mana.
“Iya, bersihin taman” tegas Alya. “Kakak ada janji sama Bujing Siti. Katanya pagi ini mau bersihin taman belakang sekaligus menanam bunga. Kamu suka nggak menanam bunga?”
Rosa menggeleng “Aku nggak suka menanam bunga karena tiap bunga yang ku tanam pasti nggak tumbuh bagus.”
“ohh,”Alya mengangguk maklum.

Beberapa menit kemudian.
“Kak Alya aku balik kekamar duluan ya kak!” tutur Rosa.
“Oh iya.. silakan..”
Rosa berlalu dari hadapan Alya, namun beberapa langkah gadis itu berjalan. “Rosa..” tiba-tiba Alya memanggilnya.
Rosa menghentikan langkahnya lalu berpaling pada Alya, “Ada apa, Kak?”
Tanyanya seraya kembali mendekati Alya.
“Ada surat buatmu, kenapa belum diambil juga?”
Rosa kaget, “Surat? surat apa ya, kak?” Rosa balik bertanya.
Alya tersenyum dalam hati, kamu itu bukan tipe pembohong Rosa, gayamu yang pura-pura nggak tahu itu ketara sekali.
“Surat yang ada di dekat kotak surat itu. kata Bujing Siti surat itu sudah hampir seminggu,” Alya menatap Rosa lekat.

Cara Alya menatapnya membuat Rosa gelagapan. Dia merasa terjebak.
“Aku…aku hanya belum sempat mengambilnya, kak. Kalau begitu aku ambil sekarang aja deh,”Ujar Rosa akhirnya, tidak tahu lagi bagaimana berkelit.
“Permisi, kak Alya,” gadis itu bergegas meninggalkan Alya.
Alya menghela nafas berat. Sungguh aneh rasanya melihat Rosa bersikap seperti itu. Entah apa yang terjadi dengannya. Namun yang jelas, apapun itu pastilah hal yang cukup berat. Karena kalau tidak, tidak mungkin gadis itu sampai kehilangan keceriaannya.
***

Ketika Alya pulang kuliah, tidak sengaja dia bertemu dengan seorang laki-laki, kira-kira berumur tiga puluhan. Laki-laki itu meninggalkan pagar rumah kost dengan pipi basah. Sementara di belakangnya Rosa berlari ke dalam rumah. Entah apa yang terjadi antara Rosa dengan laki-laki itu. Namun sebelumnya Alya sempat melihat amarah dalam sikap Rosa.

Penasaran ingin tau apa yang terjadi Alya menyapanya saat dia melintas disisinya.
“Maaf, pak, ada yang bisa saya bantu?”
Laki-laki itu mengusap pipinya yang basah, “Tidak nak, Bapak tidak apa-apa” ujarnya dengan suara bergetar.
Alya menyimpan senyumnya, “Barusan saya melihat Bapak bersama salah seorang adik kost saya. Akhir-akhir ini Rosa sering melamun. Sementara Bapak sendiri berurai air mata. Kalau boleh, saya ingin tahu apa yang terjadi. Siapa tahu saya bisa membantu.”

Laki-laki itu tertegun. Alya melihat rasa tidak percaya dimatanya Alya lalu mengulurkan tangannya, “Perkenalkan, saya Alya Rosadi. Kakak kostnya Rosa,” ucapnya meyakinkan.
Laki-laki itu menyambut tangan Alya ragu-ragu, namun disebutkannya juga namanya, “Burhan.”
“Rasanya saya pernah mendengar nama itu”sambil mengingat-ngingatnya. Ah, iya… Surat yang ada di kotak surat itu!”
“Maaf, sebenarnya Bapak ini siapanya Rosa?” Tanya Alya hati-hati.
Wajah dihadapan Alya semakin suram dan kemudian Bapak itu lalu menangis.
“Pak… Bapak kenapa?” cemas, Alya mengajak Bapak itu ke dalam rumah.
“Saya ini… Saya ini Bapaknya Rosa, tapi Rosa…”
“Tapi Rosa kenapa Pak?”
“Rosa membenci saya”
“Astaghafirullah…” Dengan sabar Alya mandengarkan cerita itu dari mulut Pak Burhan.
***

Seperti biasanya, Alya menemukan Rosa tengah melamun di halaman belakang.
“Sedang apa Ros?” Tanya Alya begitu tiba di depannya.
“Eh…Kak Alya, aku…aku…” Rosa kesulitan menjawabnya, suaranya sedikit serak, matanya yang sembab menunjukkan bahwa dia baru saja menangis.
“Kita duduk di teras rumah saja yuk, “Alya menarik tangan Rosa.
Mereka melangkah dalam diam. Setibanya di bangku teras Alya juga tidak langsung membuka suara. Dia membiarkan Rosa kembali tenggelam dalam lamunannya. Ketika Rosa tersadar akan keberadaan dirinya, Alya mengatakan apa yang sedari tadi dipikirkannya.
“Kita memang sering kali menjadikan amarah sebagai pelampiasan dari apa yang kita rasakan. Itu hal yang manusiawi sekali. Namun sesudahnya kita juga sering merasa menyesal. Itu juga hal yang manusiawi sekali.”
“Maksud Kak Alya?” Rosa menatap Alya bingung..
“Ayahmu. Dia bilang kamu baru saja memaki-makinya.”
Wajah Rosa mengeras, “Kak Alya bertemu dengan laki-laki itu?”
Alya mengangguk. Dia menangis waktu menceritakan masa lalunya. Dia menyesal.
“Menyesal? Uh.! aku tidak percaya Kak. Kalaupun iya, biarkan saja. Salah sendiri kenapa menelantarkan saya dan Ibu demi lain”
“Ibumu yang menceritakan semua itu?” Tanya Alya.
Rosa menggeleng. “Tapi bagaimanapun, Pak Burhan adalah Ayahmu. Kamu adalah darah dagingnya.”
“Bagiku, dia itu sudah mati.”
“Kakak tidak percaya. Kalau memang Ayah kandungmu tidak berarti apa-apa bagimu, kamu tidak akan terluka dengan apa yang dilakukannya. Kamu tidak akan murung selama berhari-hari setelah dia mengirimkan surat buatmu.”
Rosa tidak mengatakan apa-apa.
“Jauh di dalam hatimu, sebenarnya kamu menyesal sudah memaki-maki Ayahmu kan?”
Rosa menggeleng kuat-kuat. “Eggak!!!” Sergahnya . Namun suaranya kembali serak.
“Kamu pasti menyesal. Kakak yakin itu karna kamu adalah anak yang baik. Jadi kamu pasti merasa berdosa dengan apa yang tadi kamu lakukan.”

Kemudian Rosa terdiam. Alya membiarkan gadis itu bergelut dengan pikirannya.
Akhirnya Rosa membuka suara “Tapi dia sudah meninggalkan aku dengan Ibu, dia tak pernah mengingatku. Dari kecil Ibu yang membesarkan aku dengan susah payah. Sedangkan dia apa? Dia membuat aku tidak berarti” Rosa terisak.
“Siapa bilang kamu tidak berarti? Pak Burhan sengaja datang kesini untuk meminta maaf dan kamu tahu apa yang dikatakanya tadi pada Kakak?”
“Apa Kak?”
“Dia bilang, walaupun sakit, dia rela menyingkir dari kehidupanmu, asal kamu bahagia”
Alya merangkul Rosa lembut. “Tadi dia minta Kakak bercerita tentangmu, waktu Kakak bilang kamu adalah gadis yang periang tapi akhir-akhir ini selalu murung, dan kamu tahu apa yang dikatakannya? Dia bilang, dia akan melakukan apa saja asalkan kamu tidak kehilangan keceriaan. Diluar kesalahan yang pernah dia lakukan, Dia menyayangimu Ros.”

Rosa menundukkan wajahnya, “Entahlah, Kak Alya. aku bingung, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya tahu bahwa Hatiku sakit mengingatnya. Aku belum bisa memaafkannya. “Walaupun mulut ku mengatakan maaf tapi hati ku tidak sama saja membuatku sakit. Maaf bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan”

Alya menegakkan tubuhnya lalu bersandar didinding. Dia tidak mungkin membuat Rosa tiba-tiba memaafkan Ayahnya itu butuh waktu. Namun dia percaya bisa membantunya untuk melihat bahwa seorang Ayah, tetaplah Ayah. Walau seperti apapun dan bagaimanapun dia. (*)

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini