Sepucuk Kata Untuk Suamiku

Oleh: Muhammad Hafidz Agraprana

KUKATAKAN sekali lagi. Sudah berapa kali aku mengatakan padamu? Jangan pernah lagi pulang malam malam. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Adakah di dunia ini yang hidupnya hanya menghabiskan waktu di luar? Ada. Dia adalah dirimu. Apa yang kau biasa lakukan di luar sana? Apa kerjaanmu? Beranjak dari rumah jam tujuh pagi, pulang jam dua malam. Pulang pun hanya makan dan tidur sebentar. Apa maumu?

Kapan kau memiliki waktu untuk istrimu ini? Dulu waktu kita menikah, kau sudah berjanji akan menggauliku dengan cara yang baik. Namun apa hasilnya? Aku belum merasakannya. Sudah lima tahun kita hidup bersama. Hanya aku dan pembantu yang mengurus anak kita. Apa kau tidak rindu pada istri dan anakmu? Betapa teganya kau. Aku sayang padamu. Tetapi semakin hari, tingkah lakumu semakin menjadi jadi. Memangnya apa salahku sekarang ketika menjadi pendamping hidupmu? Apa aku kurang cantik?

Ya benar. Aku tak bisa meredam emosiku ketika ini terjadi. Bagaimana bisa seorang istri seperti diriku kerjanya hanya menunggu pintu di malam hari. Dan itu kulakukan setiap hari kecuali malam minggu. Bukan karena malam minggu dia pulang lebih awal untuk menghabiskan waktu bersama istri dan anak, tetapi dia tidak pulang. Ketika hari minggu jadwal pulang dia berubah menjadi pukul enam pagi. Begitu pulang langsung dia minta makan, dan menaruh semua baju kotornya pada ember. Setelah makan, dia langsung tertidur lama. Dan keesokan harinya, siklus dia kembali. Berangkat jam tujuh pagi dan pulang jam dua malam.

Aku ingin memarahinya, tetapi tidak boleh ketika seorang memarahi seorang pria. Aku ingat sekali ketika dulu dia menimang aku. Katanya dia berjanji akan melindungku, menyayangiku, dan menggauliku dengan baik. Aku rindu ketika dulu dia belum menjadi jadi seperti ini. Tepat satu tahun yang lalu, hubungan kita masih baik baik saja. Dimana setiap pagi aku selalu membuatkannya secangkir teh hangat, setelah teh hangat aku merebuskan air untuk , setelah merebus air aku membuatkannya sarapan pagi. Setelah sarapan pagi, dia selalu berpamitan denganku sembari aku mencium tangannya yang dilanjutkan dengan kecupan manis di keningku darinya. Aku rindu masa masa itu.

Namun semua itu berubah ketika dia dimutasi kerja ke kantor lain. Entah di kantor mana dia bekerja. Aku pun tidak tahu pekerjaannya setelah dia dimutasi karena dia tidak pernah bercerita kepadaku. Yang jelas, semenjak itu dia berbeda. Jarang berkomunikasi denganku. Mungkin dia telah lupa pada istri dan anaknya.

Dia adalah suamiku. Aku sayang padanya, namun aku sakit hati melihat tingkah lakunya yang seperti itu. Aku tak kuasa bila harus menjadi istri yang seperti ini. Malam malam aku harus begadang untuk membukakan pintu ketika jam dua malam suamiku pulang. Ekspresi suamiku ketika pulang selalu tidak enak dinikmati. Ketika pulang, suamiku langsung menuju meja makan untuk makan karena makanannya selalu masih ada ketika malam hari, lalu tidur. Sementara aku menunggunya selesai makan dan kemudian tidur bersamanya. Kadang-kadang dia juga menuju kamar mandi sembari membawa tumpukan baju yang kotor.

Iya kalau dia pulang malam untuk bekerja mencari nafkah, tetapi kalau dia melakukan hal yang lain? Aku tidak akan tahu. Tidak ada orang yang bekerja setiap hari pulang jam dua malam. Lantas apa yang suamiku lakukan di luar sana? Suamiku tidak pernah menceritakan apa apa padaku. Aku pun takut bila bertanya padanya.

Pernah suatu ketika aku bertanya dengan penuh rasa kesal, ini terjadi pada waktu awal awal suamiku pulang malam. “Mengapa kau selalu pulang malam?” tanyaku. Tetapi dengan kesal suamiku menjawab, “Pulang pulang langsung diberi suguhan seperti ini? Kau ini istriku. Kau seharusnya tahu aku pulang malam untuk bekerja. Mencari uang, mencari nafkah untuk kau dan anak kita. Camkan itu,” katanya. Semenjak itu aku sudah takut dan tidak berani lagi bertanya tentang pekerjaannya.

Pandangan tetangga terhadap keluarga kami pun seperti yang sudah kuduga. Banyak tetangga yang bertanya kepadaku pasal suamiku. Namun aku tidak bisa menjawabnya karena itu sama saja akan merusak nama baik suamiku. Aku hanya menjawab suamiku bekerja untukku dan anakku. Sehingga itu membuatku takut, apa yang terjadi apabila ibu ibu suka menggosip tentang keluargaku. Bisa jadi kasusku ini sampai menyebar ke kampung sebelah.

Memang harus sabar menghadapi suami yang seperti ini. Dia ini memang bekerja, atau memang melakukan kegiatan lainnya? Jikalau suamiku bekerja, memangnya ada orang yang bekerja hingga larut malam? Mencurigakan. Namun apa daya, aku hanya bisa menikmati ini semua. Tidak bisa melakukan apa apa lagi.

Pernah aku berpikir bahwa aku akan menceraikannya. Namun aku berpikir panjang, bagaimana bila dia benar benar bekerja. Bagaimana bila dia ternyata masih sayang padaku. Bagaimana bila dia tidak melakukan perbuatan yang macam macam di luar sana. Karena setiap bulanannya suamiku selalu memberikan jatah uang padaku untuk digunakan berbelanja. Kalau itu bukan hasil dari bekerja apa lagi? Itu yang menjadi pertimbangan untukku. Mencuri? Kurasa tidak. Terdengar aneh.

Malam ini, seperti biasa aku akan melaksanakan tugasku. Yaitu menunggu pintu hingga pada pukul dua malam ada yang mengetuk pintu dan aku bukakan. Pukul dua belas malam, dan kadang anakku terbangun sehingga aku harus menjaganya. Di kamar ini, aku ditemani anakku dan suara jangkrik di luar sana yang turut meramaikan malamku. Memang mau tidak mau aku harus melakukan ini.

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini