Sepucuk Kata Untuk Suamiku

Oleh: Muhammad Hafidz Agraprana

Pembantuku hanya bisa menenangkanku dengan kata-kata yang dia bisa. Karena hanya itulah yang pembantuku bisa lakukan untukku. Sekarang di sini aku hanya punya pembantuku, dan buah hatiku.

Dering ponsel membuatku bingung, ada apa di pagi hari ini ada yang menelepon? Karena ponselku ada di meja depan kamar, sementara aku sedang rebahan diri di kamar, aku menyuruh pembantuku untuk mengambilkan ponselku. Kebetulan itu adalah telepon dari nomor yang tidak dikenal. Aku bingung, di suasana seperti ini sempat ada telepon dari orang yang tidak aku kenal. Lantas aku mengangkat telepon itu.

Setelah selesai menelpon, aku langsung memeluk pembantuku dan anakku. Air mata dari ku dan pembantuku bercucuran deras mendengar telepon itu. Aku tak menyangka akan terjadi seperti ini. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Polisi menelpon. Ketika malam tadi, suamiku mengalami kecelakaan dengan sebuah truk. Dan sekarang keadaan suamiku kritis di rumah sakit. Suamiku langsung mengalami geger otak.
Polisi memberitahuku, pada saat itu jalanan sepi sehingga suamiku sempat pingsan agak lama di jalan. Beberapa saat, tidak ada orang yang mengetahui adanya kecelakaan itu. Orang pertama yang mengetahui kecelakaan itu langsung menelepon polisi dan menindaklanjuti kejadian itu. Polisi mengambil nomor ponselku dari dalam tas suamiku. Kemudian meneleponku dan akhirnya aku menangis.

Baca juga:  Maling Jadi Polisi

Ya, walaupun aku sudah benci pada suamiku aku masih bisa menangis jikalau terjadi kejadian seperti ini. Bagaimana tidak. Tadi malam, baru saja dia menamparku. Tadi malam, baru saja dia makan di meja makan. Tak disangka sangka, akan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini. Kemudian aku langsung bergegas menuju ke rumah sakit.

Rumah sakit Adi Sulaiman, itulah namanya. Di depan pintu masuk aku sudah dijemput bapak polisi yang tadi pagi meneleponku. Aku dituntun menuju ruangan suamiku. Bukan ruangan biasa, namun itu adalah ruangan ICU, dimana itu menandakan kondisi suamiku sudah sangat parah dan kemungkinan selamat adalah kecil.

Di sini aku berpikir, bagaimana keadaan suamiku untuk kedepannya. Aku sangat ingat ketika banyak pil nark*ba, batang rok*k, dan botol minuman keras memenuhi isi tasnya tadi malam. Bagaimana jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan pada suamiku.

Baca juga:  Insan, yang Dulu Kau Remehkan

Di sini, aku memandangi sebuah tubuh yang telah tak berdaya. Di tangannya, terdapat selang pengganti makanan untuk nutrisi. Sebuah layar dengan suara ritmik teratur di sampingnya. Sebuah kop yang menempel pada mulut dan hidungnya untuk bernafas. Aku membayangkan, di dalam tubuh suamiku ini, tersimpan ratusan pil narkoba. Bagaimana keadaan suamiku untuk kedepannya. Di dalam tubuh suamiku ini, tersimpan berlapis lapis asap rok*k. Bagaimana keadaan suamiku untuk kedepannya.

Tak kuduga, sebuah suara sangat merdu nan indah melintas di telingaku. Apa yang sebenarnya terjadi. Suamiku sadar. Suamiku melihat aku dan dokter di sampingnya. Suamiku langsung menangis, dan aku memeluknya. Keringat suamiku dan air mataku membanjiri pundak dan leher suamiku. Tak kusangka. Baru pernah aku merasa sedih yang sangat mendalam seperti ini. Baru tadi malam kita bertengkar karena masalah nark*ba. Namun, sekarang suamiku berubah. Dengan ujian ini, suamiku memiliki tekad untuk kembali ke jalan yang benar.

Baca juga:  Preman Juga Manusia

Bertaubatlah suamiku, bertaubatlah. Memohon ampunlah pada Tuhan. Karena kau telah melakukan perbuatan dosa. Mabuk, berj*di, dan boros. Bertaubatlah. Tuhan Maha Pengampun. Jika kau bersungguh sungguh, pasti Tuhan akan mengampuni kesalahanmu.
Bertaubatlah.
Bertaubatlah.

Kemudian, tak kusangka. Terdengar suara yang amat panjang dari layar, yang menandakan bahwa nafas dari suamiku telah hilang. Suamiku meninggal dunia di rumah sakit ini, karena kecelakaan lalu lintas. Dokter segera mengambil penanganan yang serius dengan alatnya, namun sayang. Takdir Tuhan memang sudah ditetapkan.

Suamiku, tenanglah di sana. Tunggu aku di sana. Aku akan berusaha semaksimal mungkin di dunia ini. Semoga, amal baikku akan menyeret kau ke surga di masa mendatang. Aku tidak tahu apakah kau mendengar sepucuk kata terakhir yang kukatakan tadi. “Bertaubatlah”, itulah sepucuk kata untuk suamiku. (*)

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *