Kabut Asap Karhutla Memburuk, Kasus ISPA di Barsel Melonjak Tajam

Buntok, Kantamedia.com – Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang kian memburuk di Kabupaten Barito Selatan, memicu lonjakan signifikan pada kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga infeksi saluran pernapasan berat sepanjang periode Juli hingga Agustus 2026.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Barito Selatan mencatat tren kenaikan gangguan respirasi ini terjadi secara beruntun selama dua bulan terakhir berdasarkan kompilasi data dari seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit daerah.

“Dari data yang kita miliki, peningkatan paling drastis terjadi mulai Juli. Jika pada bulan Juni 2026, kasus infeksi saluran pernapasan hanya 584 kasus, pada Juli meningkat menjadi 953 kasus dan Agustus meningkat lagi menjadi 1.123 kasus,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Barito Selatan, Dadang Baskoro Nugroho, di Buntok, Kamis (3/9/2026).

Dadang menerangkan bahwa penderita infeksi saluran pernapasan kategori ringan hingga sedang, seperti flu, batuk, faringitis, serta tonsilitis, umumnya dapat ditangani langsung oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama di puskesmas.

Namun, untuk pasien yang terdiagnosa mengalami infeksi saluran pernapasan berat, penanganannya harus dirujuk ke rumah sakit guna mendapat perawatan medis intensif.

“Kalau untuk yang kasus berat, seperti Pneumonia, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) seperti TB, bronkitis kronis dan emfisema, biasanya masuknya ke rumah sakit,” tutur Dadang.

Guna merespons lonjakan pasien penyakit respirasi tersebut, Dinkes Barito Selatan memperketat koordinasi lintas sektor dengan seluruh instansi terkait di lingkungan pemerintah daerah. Langkah ini dilakukan agar intervensi medis terhadap warga terdampak paparan asap dapat berjalan cepat dan merata.

“Semua unsur terkait, mulai dari Dinkes, RSUD Jaraga Sasameh, hingga 12 puskesmas telah berkolaborasi bahu-membahu melakukan penanganan terhadap masyarakat yang terdampak karhutla,” jelasnya.

Sebagai bentuk tindakan darurat, posko kesehatan di setiap unit pelayanan kesehatan kini disiagakan selama 24 jam. Pemerintah daerah juga menyediakan fasilitas penanganan krisis pernapasan, termasuk mengoperasikan rumah oksigen yang siap memberikan pertolongan pertama bagi warga yang mengalami gejala sesak napas.

“Fasilitas-fasilitas khusus penanganan respirasi juga didirikan untuk memfasilitasi pertolongan pertama bagi warga yang mengalami sesak napas. Di antaranya rumah oksigen yang kemarin diresmikan bapak bupati,” pungkas Dadang. (pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *