Karhutla Mulai Tekan Kualitas Udara di Wilayah Kalteng

Palangka Raya, Kantamedia.com– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat saat musim kemarau mulai berdampak pada kualitas udara di Kalimantan Tengah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalteng mencatat tren kualitas udara mengalami penurunan di sejumlah wilayah, meskipun belum ada daerah yang masuk kategori tidak sehat.

Hasil pemantauan Air Quality Monitoring System (AQMS) per Senin (27/7/2026) pukul 17.00 WIB menunjukkan kualitas udara di Kalteng masih berada pada kategori baik hingga sedang. Namun dalam beberapa hari terakhir terjadi pergeseran dari kategori baik ke sedang seiring meningkatnya aktivitas karhutla.

Kualitas udara saat ini masih baik dan sedang. Tapi beberapa hari terakhir ada pergeseran dari baik menjadi sedang akibat karhutla,” kata Kepala DLH Provinsi Kalimantan Tengah, Joni Harta.

Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi wilayah dengan kualitas udara terbaik. Daerah itu mencatat nilai ISPU 18 dengan parameter nitrogen dioksida (NO₂), masih dalam kategori baik.

Sementara Kabupaten Gunung Mas mencatat ISPU 54 atau kategori sedang. Kabupaten Barito Selatan dan Murung Raya masing-masing berada di angka 93 dengan kategori sedang. Adapun Kabupaten Katingan mencatat ISPU 86 yang masih tergolong baik.

Joni menjelaskan, pemantauan kualitas udara di Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Pulang Pisau belum dapat diperbarui. Penyebabnya alat AQMS di empat daerah tersebut mengalami kerusakan dan masih menunggu pemeliharaan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Selain itu, masih ada lima kabupaten yang belum memiliki alat pemantau kualitas udara secara real time, yakni Barito Utara, Barito Timur, Lamandau, Seruyan, dan Sukamara. Kondisi ini membuat pemantauan di wilayah tersebut belum bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Joni menegaskan, karhutla masih menjadi faktor utama penyebab penurunan kualitas udara di Kalteng. Cuaca panas ekstrem selama musim kemarau dan aktivitas manusia turut memperparah kondisi.

“Belum ada kabupaten atau kota yang masuk kategori tidak sehat. Namun jika karhutla semakin meluas dan jumlah hotspot meningkat, kualitas udara berpotensi memburuk,” tandasnya. (*/Fay)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *