Palangka Raya, Kantamedia.com – Kondisi ketenagakerjaan Kalimantan Tengah pada Agustus 2025 menunjukkan perbaikan terbatas. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 4,01 persen menjadi 3,97 persen. Meski penurunan ini hanya 0,04 persen poin, BPS menilai tetap ada sinyal positif.
Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 1,417 juta orang, bertambah 15,41 ribu dibanding tahun sebelumnya. Sementara jumlah penganggur turun tipis menjadi 58,61 ribu orang. Namun, angka partisipasi angkatan kerja (TPAK) justru melemah sebesar 0,31 persen poin.
Agnes menyoroti bahwa kualitas penyerapan tenaga kerja masih belum merata. “Penduduk bekerja pada kegiatan informal sebesar 50,15 persen,” ujarnya. Angka ini menunjukkan lebih dari separuh pekerja berada di sektor berisiko tinggi, minim perlindungan, dan tidak stabil secara pendapatan.
Sektor pertanian tetap menjadi lapangan kerja terbesar dengan 33,02 persen, namun mengalami penurunan kontribusi sebesar 2,16 persen poin. Sebaliknya, sektor pertambangan dan penggalian mencatat peningkatan proporsi pekerja terbesar tahun ini.
Dari sisi jam kerja, BPS mencatat penurunan pekerja penuh. “Penduduk bekerja 35 jam ke atas turun sebesar 3,60 persen poin,” ungkap Agnes. Ini menandakan meningkatnya jumlah pekerja tidak penuh, yang berdampak pada kerentanan ekonomi rumah tangga.
Tingkat pendidikan tenaga kerja juga menjadi perhatian. “Penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah sebesar 34,20 persen,” ujarnya. Dominasi lulusan rendah menunjukkan tantangan besar dalam peningkatan kualitas SDM untuk mendukung transformasi ekonomi daerah.
Perbedaan kondisi kota dan desa juga mencolok. TPT di perkotaan tercatat sebesar 4,17 persen, sementara di perdesaan sebesar 3,79 persen. Palangka Raya menjadi daerah dengan TPT tertinggi, sedangkan Pulang Pisau terendah.
Data ini menunjukkan bahwa meski angka pengangguran menurun, kualitas pekerjaan masih menghadapi tantangan besar. Tingginya informalitas, jam kerja tidak penuh, dan rendahnya pendidikan tenaga kerja menjadi pekerjaan rumah penting untuk memperkuat daya saing ekonomi Kalimantan Tengah. (Daw).


