Buntok, Kantamedia.com — Fenomena kabut asap pekat yang menyelimuti Kabupaten Barito Selatan (Barsel) sepanjang sepekan terakhir disinyalir kuat dipicu oleh asap kiriman hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari daerah tetangga. Meskipun penanganan titik api di area Barsel terbilang cukup terkendali, paparan asap dari area perbatasan tetap meluas hingga mengganggu kualitas udara setempat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Selatan, Agus In’yulius, menyampaikan bahwa sejumlah daerah tetangga di Kalimantan Tengah tercatat mengalami lonjakan karhutla yang signifikan. Kawasan-kawasan tersebut mencakup Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Kapuas, Pulang Pisau, Seruyan, dan Sukamara.
“Sebenarnya kalau kami melihat, penanganan Karhutla di Barsel ini sendiri cukup terkendali. Meskipun hotspotnya cukup banyak. Cuma masalahnya, ada daerah-daerah yang berbatasan ini yang justru tingkat karhutlanya juga tinggi dan belum bisa dikendalikan maksimal. Sehingga meskipun di tempat kita apinya sudah padam, tapi di sebelah masih menyala, maka asapnya ke kita juga kan akhirnya,” terang Agus di Buntok, Senin (31/8/2026).
Agus mencontohkan kendala yang dihadapi tim di lapangan saat menangani kebakaran di batas wilayah Barsel dan Kapuas. Pasukan pemadam Barsel telah menuntaskan pemadaman dan pendinginan lahan di wilayah administrasi mereka. Namun, kobaran api di wilayah yang masuk Kabupaten Kapuas masih bergejolak dan meluas. Kendala kewenangan wilayah menghalangi personel untuk menyeberang, sementara pergerakan kabut asap terus menerobos ke area Barsel.
Lonjakan Hotspot dan Luas Karhutla
Berdasarkan rekapan data BPBD Barsel per 30 Agustus 2026, akumulasi hotspot di Kabupaten Barito Selatan sejak Januari hingga Agustus 2026 menyentuh angka 2.037 titik.
Lonjakan paling tajam terkonsentrasi sepanjang bulan Agustus dengan temuan mencapai 1.938 titik hotspot.
Tingkat kerusakan lahan juga mencapai puncaknya pada bulan Agustus. Dari total 514,86 hektare area yang hangus terlahap si jago merah sejak awal tahun, sebanyak 452,41 hektare di antaranya terbakar dalam kurun waktu Agustus saja.
Sebaran Titik Kebakaran di Tingkat Kecamatan
Pemetaan insiden karhutla menunjukkan Kecamatan Dusun Selatan sebagai daerah terdampak paling parah, yakni dengan 63 kejadian dan total kerusakan lahan mencapai 245,08 hektare. Di urutan kedua, Kecamatan Dusun Hilir mencatatkan luas kebakaran 147,92 hektare dari sembilan kejadian.
Sementara di wilayah Kecamatan Karau Kuala 18 kejadian dengan luas lahan terbakar 50,86 hektare. Kecamatan Dusun Utara 7 kejadian dengan luas lahan terbakar 36,00 hektare. Kecamatan Jenamas 14 kejadian dengan luas lahan terbakar 27,50 hektare. Dan, di Kecamatan Gunung Bintang Awai 2 kejadian dengan luas lahan terbakar 7,50 hektare. (pri)


