Kabut Asap Karhutla, Anak dan Lansia Paling Rentan Terpapar Kabut Asap

Oleh : Dokter Adi Suciatma

PALANGKA RAYA, Kantamedia.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu jarak pandang dan menimbulkan bau menyengat. Paparan asap juga dapat berdampak terhadap kesehatan karena mengandung partikel halus, salah satunya PM2.5, yang berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.

Dokter Adi Suciatma menjelaskan, paparan kabut asap dapat memengaruhi sejumlah organ tubuh, terutama mata dan saluran pernapasan. Pada orang dengan kondisi tertentu, paparan asap juga dapat memperburuk gangguan jantung dan pembuluh darah.

Keluhan yang muncul dapat berbeda-beda, bergantung pada tingkat paparan serta kondisi kesehatan masing-masing orang.

 

Keluhan Kesehatan akibat Kabut Asap

Salah satu keluhan yang paling umum adalah iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Gejalanya dapat berupa mata perih atau berair, hidung berair maupun tersumbat, serta tenggorokan terasa kering dan gatal.

Partikel asap juga dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga memicu batuk, rasa mengganjal di tenggorokan, serta peningkatan produksi lendir atau dahak.

Pada paparan yang lebih berat, seseorang dapat mengalami sesak napas dan mengi. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih, terutama pada penderita asma atau penyakit paru kronis karena kabut asap dapat memperburuk gejala yang sudah ada.

Paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dan berlangsung terus-menerus juga dapat berkaitan dengan peradangan saluran pernapasan serta penurunan fungsi paru sementara.

Selain gangguan pernapasan, sebagian orang dapat mengalami sakit kepala, pusing, dan mudah lelah selama terpapar asap.

Pada kelompok rentan, terutama lansia dan orang dengan penyakit jantung, kualitas udara yang buruk juga dapat meningkatkan risiko memburuknya kondisi kardiovaskular.

 

Anak dan Lansia Perlu Mendapat Perhatian

Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara. Paru-paru mereka masih dalam tahap perkembangan dan kebutuhan udara relatif lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Aktivitas fisik yang tinggi juga dapat membuat anak menghirup lebih banyak udara ketika berada di luar ruangan.

Paparan asap pada anak dapat memicu batuk, mengi, sesak napas, penurunan fungsi paru, hingga memperburuk asma pada anak yang sudah memiliki kondisi tersebut.

Sementara itu, lansia, khususnya mereka yang berusia 65 tahun ke atas, juga perlu mendapat perhatian. Penurunan cadangan fungsi tubuh dan kemungkinan adanya penyakit jantung maupun paru dapat membuat kelompok ini lebih rentan ketika kualitas udara memburuk.

Secara umum, anak lebih banyak menghadapi risiko gangguan saluran pernapasan dan perkembangan paru, sedangkan lansia berisiko mengalami perburukan penyakit paru maupun gangguan kardiovaskular.

 

Kurangi Paparan Kabut Asap

Upaya utama untuk melindungi kesehatan saat kualitas udara memburuk adalah mengurangi jumlah asap yang terhirup.

Masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru, dan penyakit jantung, dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap sedang pekat.

Pintu dan jendela juga sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya asap ke dalam rumah. Jika harus keluar, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat memberikan perlindungan lebih terhadap partikel halus dibandingkan masker kain biasa.

Bila tersedia, masyarakat dapat menggunakan penyaring udara dengan filter HEPA dan menyediakan satu ruangan yang relatif tertutup dari asap sebagai ruang dengan kualitas udara lebih bersih.

Sumber polusi udara di dalam rumah juga perlu dikurangi, termasuk asap rokok, pembakaran sampah, pembakaran dupa, serta aktivitas lain yang menghasilkan asap ketika kondisi udara di luar sedang buruk.

Masyarakat juga disarankan memantau kualitas udara dan menunda olahraga maupun aktivitas fisik di luar ruangan apabila kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat.

 

Penanganan Keluhan Ringan

Untuk keluhan ringan seperti tenggorokan kering, mata terasa perih, atau batuk ringan, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana.

Minum air secukupnya dapat membantu menjaga kelembapan tenggorokan. Berkumur menggunakan air garam hangat juga dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada tenggorokan.

Setelah terpapar asap dari luar ruangan, mandi dan mengganti pakaian dapat membantu membersihkan partikel yang menempel pada tubuh dan pakaian.

Jika mata terasa perih, mata dapat dibilas menggunakan air bersih atau menggunakan air mata buatan sesuai kebutuhan. Mengucek mata sebaiknya dihindari.

Minuman hangat juga dapat memberikan rasa nyaman pada tenggorokan. Madu dapat digunakan sebagai salah satu pilihan untuk membantu meredakan batuk pada orang dewasa dan anak berusia lebih dari satu tahun.

Namun, konsumsi madu, jahe, kunyit, jeruk nipis, susu, atau bahan alami lainnya tidak dapat menggantikan upaya utama untuk mengurangi paparan asap. Tidak ada bahan makanan atau minuman tertentu yang terbukti dapat membersihkan PM2.5 dari paru-paru.

 

Kenali Tanda Bahaya

Masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas sedang hingga berat, napas cepat atau sulit bernapas, nyeri atau tekanan di dada, bibir atau wajah tampak kebiruan, mengi berat, penurunan kesadaran, atau rasa mengantuk yang tidak biasa.

Pada anak, kesulitan bernapas atau tidak mau minum juga perlu mendapat perhatian medis. Penderita asma yang mengalami gejala dan tidak membaik setelah menggunakan obat yang biasa diresepkan juga dianjurkan segera mendapatkan pertolongan.

Keluhan berupa nyeri dada atau jantung berdebar berat juga tidak sebaiknya diabaikan, terutama pada kelompok yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Paparan asap dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan hanya mengandalkan pengobatan rumahan apabila muncul tanda-tanda kegawatan.

 

Kurangi Paparan Menjadi Langkah Utama

Dampak kabut asap terhadap kesehatan dapat dimulai dari iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, kemudian batuk dan peningkatan dahak. Pada kondisi tertentu, paparan dapat memicu sesak, mengi, memperburuk asma maupun penyakit paru, serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular pada kelompok rentan.

Perlindungan terhadap anak dan lansia perlu menjadi perhatian ketika kualitas udara memburuk. Langkah yang paling penting adalah mengurangi paparan asap dengan membatasi aktivitas di luar ruangan, menjaga udara di dalam rumah tetap bersih, serta menggunakan respirator yang sesuai apabila harus berada di luar.

Jika muncul gejala berat atau tanda kegawatan, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis. (*).

 

 

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *