Antrean BBM Mengular di Palangka Raya, Pengendara Terpapar Kabut Asap

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Antrean kendaraan kembali mengular di salah satu SPBU di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (8/9/2026). Kondisi tersebut terjadi saat kualitas udara di kota setempat berada pada kategori berbahaya akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pantauan di SPBU Pertamina Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, petugas mengatur kendaraan ke tiga jalur antrean di luar area SPBU.

Panjang antrean membuat pengendara harus berada cukup lama di ruang terbuka sambil menunggu giliran mengisi BBM. Sejumlah pengendara terlihat menggunakan masker, sementara lainnya tetap tanpa perlindungan meski asap menyelimuti kawasan tersebut.

Sales Area Manager (SAM) Pertamina Kalteng, Donny Prasetya, mengatakan antrean dipengaruhi kendala distribusi BBM yang terjadi akibat kondisi kemarau dan karhutla.

“Saat ini karena faktor kemarau dan karhutla menjadi salah satu faktor adanya keterlambatan pengiriman ke SPBU,” kata Donny, Selasa (8/9/2026).

Menurut Donny, kondisi kekeringan membuat arus pasang surut menjadi lebih dinamis. Sementara kabut asap yang mengurangi jarak pandang menyebabkan mobil tangki harus menyesuaikan kecepatan serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

Untuk mempercepat distribusi, Pertamina melakukan langkah mitigasi dengan melibatkan Depot Sampit, terutama untuk pengiriman Pertalite ke sejumlah SPBU di Palangka Raya.

“Sebagai mitigasi kami dibantu oleh Depot Sampit untuk membantu pengiriman BBM, khususnya Pertalite agar penyaluran ke SPBU Palangka Raya bisa lebih cepat,” ujarnya.

Langkah tersebut mulai dilakukan sejak Minggu (6/9/2026), setelah jembatan di Kasongan kembali dapat dilalui kendaraan mobil tangki BBM.

Donny berharap antrean dapat segera kembali normal. Ia juga membantah adanya pengurangan volume pengiriman BBM ke SPBU. Menurutnya, jumlah pengiriman disesuaikan dengan kondisi kapasitas tangki SPBU serta ketersediaan loading order saat pemesanan.

Sementara itu, salah seorang pengemudi ojek online, Dani, mengaku antrean BBM membuat aktivitasnya terganggu. Ia memilih mengisi Pertalite karena harganya lebih terjangkau dibandingkan BBM eceran.

“Kalau ngantri sekarang lama, padahal waktunya bisa digunakan buat cari customer. Ini saja saya sudah kelewat satu orderan yang tidak saya terima, akibat antri BBM,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menambah persoalan bagi masyarakat yang harus tetap beraktivitas di tengah kabut asap. Selain menghadapi antrean BBM, pengendara juga harus berhadapan dengan risiko paparan udara yang berada pada kategori berbahaya. (daw)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *