Buntok, Kantamedia.com — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barito Selatan (Barsel) mendesak pemerintah daerah setempat untuk menjaga efektivitas pelayanan publik di tengah ancaman kabut asap yang dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut dinilai tidak boleh melumpuhkan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan layanan dari Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD).
Anggota DPRD Barsel, Hermanes, menekankan bahwa penurunan kualitas udara akibat pencemaran asap kerap menjadi celah menurunnya performa instansi pemerintah. Politisi dari PDI Perjuangan ini menginstruksikan seluruh jajaran SOPD agar tetap siap sedia melayani warga. Di samping menjaga kualitas layanan, pemerintah daerah juga dituntut mengambil langkah preventif yang lebih responsif guna melindungi warga, khususnya kelompok rentan seperti balita, lansia, serta para pekerja lapangan.
Salah satu fokus perlindungan yang disorot DPRD Barsel adalah logistik kesehatan. Hermanes mendesak dinas terkait untuk mendistribusikan alat pelindung pernapasan secara masif dan berkeadilan. Logistik kesehatan tersebut diminta tidak menumpuk di pusat perkotaan saja, melainkan harus menjangkau area pedalaman yang kerap luput dari pemantauan.
“Pembagian masker harus dilakukan secara merata hingga ke pelosok desa. Berdasarkan informasi yang kita terima, saat ini Pemerintah Kabupaten Barsel akan mengadakan dan membagikan ratusan ribu masker,” ujar Hermanes di Buntok, Kamis (10/9/2026).
Dia berharap program pengadaan masker dari Pemkab Barsel ini segera terealisasi tanpa hambatan birokrasi, sehingga warga terpencil yang terdampak paparan asap tetap mendapatkan perlindungan maksimal.
Guna menekan risiko penyakit saluran pernapasan, masyarakat diimbau untuk lebih disiplin mematuhi protokol kesehatan selama cuaca ekstrem berlangsung. Warga diminta membatasi agenda di luar gedung jika indeks standar pencemar udara (ISPU) berada di level berbahaya, serta wajib memakai masker saat terpaksa bepergian.
Di sisi lain, persoalan kelestarian lingkungan turut menjadi perhatian serius. Dia mengingatkan warga agar menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Ia menegaskan bahwa kelalaian individu dalam mengelola api menjadi faktor dominan di balik maraknya bencana ekologis di kawasan tersebut.
“Karhutla terjadi akibat tidak bijaknya masyarakat menggunakan api. Sementara terjadinya karhutla hampir dapat dipastikan 90 persen akibat ulah manusia itu sendiri,” kata Hermanes. (pri)






