Gibran terdiam beberapa detik, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Serius, Pak?”
“Iya. Memang tidak besar, tapi lumayan.”
Ketika jumlahnya disebutkan, dua ratus ribu rupiah, Gibran justru tersenyum lebar. Bagi orang lain mungkin jumlah itu terasa kecil, bahkan mungkin tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi Gibran, uang itu cukup untuk membeli beras beberapa hari atau membayar listrik di rumah kontrakannya.
Hari itu ia pulang dengan langkah yang terasa ringan.
Malamnya, di kamar kontrakan yang sempit, Gibran menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Ia memfotokopi KTP, mengisi formulir, dan merapikan semuanya ke dalam map plastik yang sudah mulai kusam.
Sesekali ia memandangi map itu sambil tersenyum. “Lumayan,” gumamnya pelan.
Keesokan paginya ia berangkat lebih awal menuju bank yang menjadi tempat pencairan insentif. Ia mengenakan seragam guru yang sedikit kebesaran. Lengan bajunya menjuntai panjang dan celananya terlihat agak longgar.
Seragam itu sebenarnya sudah lama ia pakai. Ia belum punya uang untuk menjahit atau membeli yang baru.
Di depan bank, beberapa guru lain juga terlihat datang dengan tujuan yang sama. Mereka saling menyapa dengan senyum yang penuh harapan.
Di dalam bank, antrean sudah mengular panjang. Kursi tunggu hampir penuh. Gibran mengambil nomor antrean lalu duduk di pojok ruangan.
Waktu berjalan lambat. Satu jam berlalu. Dua jam berlalu.
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


