Beberapa orang di belakang langsung menoleh.
Wajah Gibran mendadak panas. Dadanya seperti ditekan sesuatu. Dengan suara yang hampir berbisik ia menjawab. “Bukan, Mba.”
Ia menelan ludah sebentar. “Dua ratus ribu.”
Ruangan terasa hening sesaat. Teller itu hanya berkata singkat. “Oh.”
Nada suaranya berubah dingin. Tangannya kembali mengetik dengan cepat tanpa menatap Gibran lagi.
Beberapa menit kemudian dua lembar uang seratus ribu disodorkan melalui celah kaca. “Ini Pak.”
Gibran menerimanya dengan hati-hati, seolah dua lembar uang itu sangat rapuh. Ia mengucapkan terima kasih, lalu berjalan keluar dari bank.
Di luar, matahari siang terasa terik. Gibran berhenti sejenak di bawah pohon kecil di halaman bank. Ia membuka dompetnya dan memandang dua lembar uang itu. Angin berhembus pelan. Ada rasa aneh yang mengendap di dadanya. Antara bahagia dan perih.
Dua ratus ribu rupiah. Jumlah yang bagi sebagian orang bahkan tidak cukup untuk membeli sepatu baru. Tetapi bagi seorang guru honorer seperti dirinya, uang itu adalah hasil dari kesabaran panjang yang sering tidak dihargai.
Gibran menarik napas panjang. Lalu ia tersenyum kecil. Di dalam pikirannya terbayang wajah murid-muridnya di kelas. Anak-anak yang selalu menyambutnya dengan tawa dan pertanyaan polos.
Ia memasukkan uang itu kembali ke dalam dompetnya.
Besok pagi ia akan kembali berdiri di depan papan tulis. Mengajar seperti biasa. Bercerita seperti biasa. Tertawa bersama murid-muridnya seperti biasa. Karena baginya, menjadi guru bukan tentang berapa besar uang yang diterima.
Tetapi tentang keyakinan bahwa suatu hari nanti, dari bangku-bangku kecil di kelas itu akan lahir orang-orang besar. Dan mungkin saja, salah satu dari mereka akan tumbuh menjadi seseorang yang akhirnya mengerti betapa berharganya pengorbanan seorang guru.
Sementara itu, Gibran hanya berjalan pelan menyusuri trotoar. Dengan dua lembar uang di dompetnya. Dan dengan harga diri yang tetap ia jaga setinggi mungkin. (***)
(INSAN FAISAL IBRAHIM, S.Pd.; Kp. Pamalayan Desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut, Jawa Barat; IG: @innsanfaisal)
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


