Orang-orang datang dan pergi. Sementara Gibran tetap duduk dengan sabar, memeluk map berkasnya seolah itu benda yang sangat berharga. Akhirnya nomor antreannya dipanggil.
“Nomor empat puluh dua.”
Gibran berdiri. Ia berjalan menuju meja teller dengan langkah hati-hati. Tangannya sempat merapikan kerah seragamnya yang sudah agak pudar.
Teller bank itu seorang perempuan muda dengan wajah yang rapi dan ekspresi datar. Ketika Gibran berdiri di depannya, matanya sempat menelusuri penampilan Gibran dari atas hingga bawah.
Ada bisikan kecil yang ia ucapkan kepada rekannya di sebelah.
Gibran sebenarnya mendengar. Namun ia memilih untuk tidak memikirkannya. Ia menyerahkan berkas dengan sopan.
“Mba, saya mau mencairkan insentif guru.”
Teller itu mulai mengetik di komputer tanpa banyak bicara.
Beberapa detik kemudian Gibran bertanya dengan hati-hati. “Mba, kira-kira uangnya bisa diambil semua atau harus disimpan sebagian untuk saldo.”
Teller itu menatapnya sebentar.
“Memang uang yang mau diambil berapa, Pak.”
“Dua ratus, Mba.”
Teller itu langsung mengangkat alis. “Wah besar sekali. Dua ratus juta ya.”
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


