Mukjizat Untuk Lelaki yang Bukan Nabi

Oleh: Ken Hanggara

TAK ada seorang pun yang mendengarku. Akhirnya aku duduk untuk beberapa lama dan membayangkan tubuhku tiba-tiba mampu menembus tembok.

Kubayangkan tubuh ini seringan kapas, sehingga aku tak perlu cemas dengan kedua kakiku yang dipatahkan. Aku akan terbang melayang, menembus tembok besi itu, menuju kebebasan.

Ada berapa lapis tembok besi yang dibangun untuk orang sepertiku? Sesuatu telah mengancam keberadaanku sejak kugaungkan kebenaran-kebenaran yang selama ini tak terungkap di mata publik. Puluhan foto kusebar dengan berbagai cara dan sejak hari itu, hidup atau mati, orang-orang menjadikanku sasaran buruan.

Ada beberapa harga yang pantas bagiku, tapi seseorang, bekas anak raja dari suatu masa yang kelam, menawarkan harga yang cukup tinggi, bahkan hanya untuk sepotong jemariku. Sidik jarinya saja cukup, begitu katanya, menurut sebuah rumor yang beredar.

Maka, orang-orang yang bersamaku, meski mereka tak terlalu berani bersuara atau membelaku di depan orang lain (bahkan di depan orang-orang dengan kelas sosial yang rendah di yang belum lama berdiri ini), memberiku perlindungan secara bergantian. Mereka mengundi nama-nama tertentu yang harus memberiku tumpangan sampai waktu kabur ke luar negeri tiba.

“Aku tidak harus ke luar negeri. Aku bisa menghadapi semuanya di sini, asal kalian mau berdiri bersama-sama denganku,” kataku. “Nanti kita bikin pasukan bersenjata dan kita persiapkan teknologi terbaik kreasi untuk menggempur para bangsat yang pernah mengacau-balau masa lalu itu.”

Hanya segelintir yang mengira ucapanku bagus, meski sungguh gila. Peluangnya pasti kecil, kata mereka. Dan pula, jika tertangkap, kami tidak lagi bisa berjuang seperti biasa.

“Pakai cara-cara lama. Dari bawah tanah,” kata Mariana suatu ketika. Kudengar dia berbisik sekali lagi, di ruang gelap dengan tembok besi yang mengurungku ini. Itulah di saat kami terakhir kali bertemu. Sejak itu, Mariana dan yang lain tak lagi bersamaku.

Sebenarnya, kalau saja malam itu tak terjadi pada bus yang kutumpangi, aku masih sempat pergi bersama Ali Mugeni, teman lamaku, pebisnis kelas atas, yang mau memberiku walau diam-diam, karena dia cukup dekat juga dengan Sapono, kerabat keluarga raja dari masa yang kelam.

Ali Mugeni tidak bisa berbuat banyak tanpa menjadikan dirinya turut dicurigai berada di balik kebocoran informasi lama terkait apa yang orang-orang sebut sebagai malam berdarah, kecuali mengantarku ke rumah salah satu sahabatnya yang siap menampungku sebelum mengirimku kabur ke Afrika.

Sesuatu yang mengerikan, dulu sekali, pernah terjadi di lembah kami yang indah. Orang-orang tak berdosa ditebas begitu saja, dan kepala mereka dilarung ke laut, sedang tubuh mereka dijadikan santapan anjing atau latihan menembak. Pada masa itu, -dongeng hantu tersebar di berbagai tentang pemilik kepala-kepala malang itu, yang belum juga mati karena menganut ilmu tertentu. Dikabarkan tubuh mereka dari tanah pekuburan massal bangkit setiap malam untuk mencari-cari kepala mereka yang telah hilang demi melancarkan perlawanan yang tadinya telah gagal.

Kata pamanku, yang tak lama kemudian hilang dibawa orang-orang misterius dan tak pernah kembali, “Jangan percaya omong kosong Raja!”

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini