PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Tengah menjadi perhatian DPRD Kalimantan Tengah. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di wilayah gambut yang sangat rentan terhadap kebakaran saat musim kemarau.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah, sejak 1 Januari hingga 19 Juli 2026 terdeteksi sebanyak 2.844 hotspot. Dalam periode yang sama, tercatat 563 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan luas lahan terbakar mencapai 3.069,52 hektare.
Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Tengah, Muhammad Ansyari, mengatakan karakteristik lahan gambut membuat api mudah menyebar dan jauh lebih sulit dipadamkan dibandingkan kebakaran di lahan mineral.
“Kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada karena daerah gambut sangat rawan terjadi karhutla. Sekali api muncul, penyebarannya sangat cepat dan proses pemadamannya jauh lebih sulit dibandingkan lahan biasa,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Menurut Ansyari, kebakaran di lahan gambut tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan bawah tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama. Kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat maupun aktivitas ekonomi.
Ia menegaskan masyarakat perlu meninggalkan kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar karena risikonya sangat besar, terutama saat cuaca panas disertai angin kencang.
“Kami mengimbau masyarakat yang membuka lahan agar tidak menggunakan api. Cara seperti itu sangat berisiko memicu karhutla, apalagi saat cuaca panas dan angin kencang. Kesadaran bersama menjadi benteng utama agar bencana ini tidak kembali terulang,” tegasnya.
Selain itu, Ansyari meminta pemerintah daerah melalui BPBD, aparat terkait, hingga pemerintah desa terus memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan karhutla. Menurutnya, penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak bisa hanya mengandalkan petugas di lapangan.
“BPBD harus terus aktif memberikan edukasi kepada masyarakat. Penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan kerja sama semua pihak agar titik api bisa dicegah sejak awal,” katanya.
Ia berharap koordinasi antarinstansi serta partisipasi aktif masyarakat terus diperkuat selama musim kemarau. Dengan langkah pencegahan yang konsisten, jumlah titik api di Kalimantan Tengah diharapkan dapat ditekan sehingga dampak terhadap lingkungan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat dapat diminimalkan. (daw)


