HUJAN turun perlahan sore itu. Rintiknya mengetuk kaca jendela seperti seseorang yang ingin masuk, namun ragu untuk benar-benar datang. Di ruang kerja kecil yang terletak di sudut rumah, Gibran masih menatap layar laptopnya. Jemarinya bergerak cepat, sesekali berhenti untuk mengusap kening yang mulai berkeringat.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 18.30, tetapi baginya waktu seperti tak lagi punya arti. Deadline, target, dan laporan, semuanya berputar tanpa henti di kepalanya.
Baca Juga
Di balik pintu, sepasang mata kecil mengintip.
“Ayah…?”
Suara itu pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan. Tapi Gibran mendengarnya. Ia menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar.
“Iya, Nak. Sebentar ya, Ayah lagi kerja,” jawabnya singkat.
Baca Juga
Anak kecil itu tetap berdiri di sana. Raka, usia lima tahun, dengan kaus bergambar mobil kesayangannya, menggenggam sebuah mainan kecil di tangannya.
“Sebentar itu berapa lama, Yah?” tanyanya polos.
Gibran menghela napas. “Sebentar… ya sebentar. Nanti kalau Ayah sudah selesai, kita main.”
Baca Juga
Raka mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar mengerti arti “sebentar” versi orang dewasa. Baginya, lima menit saja sudah terasa lama. Apalagi satu jam. Atau dua jam. Atau… sampai ia tertidur.
Ia berjalan kembali ke ruang tengah, duduk di lantai, dan mulai memainkan mobil-mobilannya sendiri.
Sunyi.
Baca Juga
Hanya suara hujan dan sesekali bunyi ketikan dari dalam kamar kerja yang menemani.
Hari-hari Gibran memang selalu seperti itu. Pagi berangkat sebelum Raka benar-benar bangun, malam pulang saat Raka hampir terlelap. Bahkan di hari Minggu, saat kebanyakan orang menikmati waktu bersama keluarga, Gibran masih sibuk dengan pekerjaannya.
Baginya, semua ini bukan tanpa alasan.
Baca Juga
Ia ingat betul masa kecilnya.
Rumah sempit, atap bocor, dan keinginan-keinginan kecil yang tak pernah terpenuhi. Ia pernah menangis hanya karena tidak dibelikan sepatu baru saat masuk sekolah. Ia pernah menahan malu karena harus memakai baju yang sudah lusuh.
Ayahnya dulu bekerja keras, tetapi hasilnya tak pernah cukup.
Dan sejak saat itu, Gibran berjanji pada dirinya sendiri bahwa Anaknya tidak boleh merasakan hal yang sama.
Baca Juga
Ia ingin memberikan segalanya. Mainan terbaik, pendidikan terbaik, kehidupan yang lebih layak.
Namun, tanpa ia sadari, ada satu hal yang perlahan ia ambil dari Raka. Yaitu Waktu.
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


