Dan kalimat itu…
Menghancurkan semua pertahanan yang selama ini Gibran bangun.
Air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya, bukan karena lelah. Tapi karena sadar.
Bahwa selama ini, ia terlalu sibuk mengejar masa depan… sampai lupa hadir di masa sekarang.
Hari itu, laptop tetap tertutup.
Gibran mengajak Raka ke taman. Mereka berlari, tertawa, bermain kejar-kejaran. Hal-hal sederhana yang selama ini terasa “tidak penting”.
Namun justru di sanalah, ia menemukan sesuatu yang selama ini hilang.
Kebahagiaan.
Bukan dari angka di rekening. Bukan dari pencapaian pekerjaan. Tapi dari tawa seorang anak yang merasa dicintai.
Malam harinya, saat Raka tertidur di sampingnya, Gibran menatap langit-langit kamar.
Ia masih ingin bekerja keras. Masih ingin memberikan yang terbaik.
Namun kini ia tahu satu hal bahwa Uang bisa dicari. Tapi waktu… tidak akan pernah kembali.
Dan sejak hari itu, Gibran mulai belajar.
Belajar menutup laptop lebih cepat. Belajar mendengarkan lebih banyak.
Belajar hadir… bukan hanya secara fisik, tapi juga dengan hati. Karena ia tidak ingin suatu hari nanti, Raka tumbuh dewasa…
…dan hanya memiliki kenangan tentang seorang ayah yang selalu sibuk.
-SELESAI-
Catatan Penulis
Cerita ini bukan sekadar rangkaian kata yang dirangkai untuk mengaduk perasaan. Di balik setiap dialog dan setiap adegan, terselip potongan nyata dari kehidupan penulis sendiri. Tentang kesibukan, tentang alasan bekerja keras demi keluarga, dan tentang tanpa sadar mengurangi waktu untuk orang-orang yang paling berharga.
Melalui kisah Raka dan Gibran, penulis ingin menyampaikan bahwa sering kali kita terlalu fokus mengejar masa depan, hingga lupa bahwa kebahagiaan sejati justru ada di saat ini dalam tawa kecil anak, dalam pelukan hangat keluarga, dan dalam kehadiran yang utuh, bukan sekadar fisik.
Semoga cerita ini menjadi pengingat sederhana bahwa anak tidak selalu meminta banyak
mereka hanya ingin kita ada. Karena pada akhirnya, waktu yang terlewat tidak akan pernah bisa dibeli kembali.
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


