Malam itu, hujan sudah reda. Gibran keluar dari ruang kerjanya sekitar pukul 21.30. Ia meregangkan badan, merasa sedikit lega karena pekerjaannya selesai.
“Raka?” panggilnya.
Baca Juga
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah ke ruang tengah dan menemukan Raka tertidur di lantai, masih memeluk mobil-mobilannya. Televisi masih menyala, menampilkan kartun yang sudah lama selesai.
Gibran terdiam.
Ia mendekat, mengangkat tubuh kecil itu, dan membawanya ke kamar. Saat menyelimuti Raka, ia melihat wajah polos anaknya. Tenang. Damai.
Baca Juga
“Maaf ya, Nak…” bisiknya pelan.
Namun, seperti malam-malam sebelumnya, kata maaf itu hanya berhenti di udara.
Keesokan harinya adalah hari Minggu.
Baca Juga
Seharusnya hari untuk keluarga.
Namun, laptop Gibran kembali terbuka di meja makan.
“Ayah, hari ini kita main mobil-mobilan ya?” tanya Raka dengan mata berbinar.
Baca Juga
Gibran tersenyum tipis, tanpa benar-benar menatap anaknya. “Nanti ya, Nak. Ayah lagi ada kerjaan sedikit.”
“Sedikit itu berapa lama, Yah?” tanya Raka lagi.
Gibran terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa sama seperti kemarin. Dan hari-hari sebelumnya.
Baca Juga
“Sebentar saja,” jawabnya lagi.
Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk di kursi, menatap ayahnya dengan cara yang berbeda. Bukan seperti anak kecil yang merengek. Tapi seperti seseorang yang sedang berpikir.
Beberapa menit berlalu.
Raka turun dari kursi, lalu berjalan ke arah kamar. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah celengan kecil berbentuk mobil.
Baca Juga
Ia meletakkannya di atas meja, tepat di depan Gibran.
“Ayah,” katanya pelan.
Gibran menoleh. “Iya, Nak?”
“Kalau Raka kasih uang ini ke Ayah… Ayah bisa nggak berhenti kerja hari ini?”
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


