Pertanyaan itu membuat waktu seolah berhenti.
Gibran menatap celengan itu. Lalu menatap Raka. Ada sesuatu di mata anak itu. Sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak usia lima tahun.
Baca Juga
“Raka… maksudnya apa?” suara Gibran mulai melemah.
Raka menggenggam ujung baju ayahnya.
“Kata Ayah, kerja itu buat cari uang, kan? Supaya Raka senang…” ucapnya perlahan. “Tapi Raka lebih senang kalau Ayah ada di rumah… main sama Raka.”
Gibran membeku.
Baca Juga
“Kalau uangnya kurang, Raka nabung lagi nanti… yang penting Ayah jangan kerja terus…”
Suara kecil itu terdengar begitu jujur. Begitu tulus. Tanpa tuntutan. Tanpa marah.
Namun justru itu yang membuat hati Gibran terasa seperti diremas.
Baca Juga
Ia tidak siap mendengar kata-kata seperti itu dari anaknya.
Seorang anak berusia lima tahun… berbicara seperti orang dewasa.
Dan tiba-tiba, semua yang selama ini ia kejar terasa kehilangan makna.
Baca Juga
Gibran menutup laptopnya perlahan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia benar-benar melihat anaknya.
Raka. Anak kecil yang hanya ingin bermain bersama ayahnya.
Baca Juga
Bukan mainan mahal. Bukan hadiah besar. Hanya… waktu.
Gibran berlutut di depan Raka, memeluknya erat.
“Maaf ya, Nak… Ayah salah…”
Raka tidak langsung mengerti. Ia hanya membalas pelukan itu.
Baca Juga
“Ayah kira… dengan kerja keras, Ayah bisa bikin Raka bahagia…” lanjut Gibran dengan suara bergetar.
“Raka sudah bahagia, Yah… kalau Ayah ada…” jawab Raka sederhana.
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


