Lima Menit Tersisa

Oleh: Rofinus Jatong

SEANDAINYA diam adalah jelmaan dirimu, maka aku akan selalu datang sebagai senyum yang menemani sepi dan juga bahagiamu. Aku rindu dan aku selalu mengenang , kebaikan, dan kasih sayang gadis itu. Ia lembut, sabar, dan parasnya cantik. Namun aku melupakannya untuk seorang gadis yang baru ku kenal.

Iva, nama gadis itu. Mungkin ia seorang malaikat yang tersesat lalu bertemu denganku. Ia tak tahu ke mana ia pergi sebelumnya dan tak tahu pula ke mana ia akan kembali. Ia gadis yang sangat cantik, polos dan lugu.

Sebelumnya ia tak pernah mengenal “cinta”, katanya. Dan akulah cinta pertamanya. Orang pertama yang mengecup keningnya adalah aku dengan status sebagai kekasihnya. Untuk sementara waktu ia mengenal diriku sebagai tempat yang ingin ia tujui dan sekaligus tempat di mana ia akan kembali. Cintanya adalah perjalanan menuju diriku dan aku seperti puaka yang menjaring dirinya dan ku sambut ia dengan gita puja.

Baca juga:
Kontingen FBIM Kotim Dilepas, Bupati Targetkan Juara Umum

“Aku tidak sekedar menyukaimu, tetapi lebih daripada itu aku telah jatuh cinta padamu.”
“Benarkah?”
“Iya, sungguh aku jatuh dengan gaya tak beraturan dan dalam larutan darah di hatimu.”
“Dasar gombal,” sahut gadis itu. Suasana menjadi cair dan kami berdua pun tertawa.

Pertemuan pertamaku dengannya sangat menyenangkan dan dirinya seperti jintan pengobat rindu dan ku ibaratkan diriku seperti pergam yang siap menyukainya. Iva seperti sebuah labirin yang ku telusuri hingga aku tersesat seperti dirinya dan lupa pulang yang mengakhiri semuanya. Aku dan Iva aktif berbicara dalam suasana yang santai. Sesekali kami tertawa lepas dengan gerakan refleks yang terkadang jemariku mendarat pada pipinya. Wajah gadis itu penuh dengan senyuman dan aku sangat menyukainya. Ia menatapku sambil menggoda dengan mengedip indah matanya.

Baca juga:
Kasus Meja Di Titik Buta

Aku melamun jauh di depan matanya membayangkan puadai membentang panjang bila saat tiba aku melamar dirinya dan duduk bersama di pelaminan. Aku juga membayangkan kami dapat berbaring di celah-celah gelagah sejenak menikmati kesejukan angin yang tertiup melalui mulut daun dan juga mungkin perumpung sambil menikmati bunyi gemercik air sungai yang sedang mengalir. Sampai aku lupa gadis di depanku telah menatapku dalam kebingungan dan waktu telah menunjuk pada pukul. 8:15 pagi.

Kami melanjutkan pembicaraan yang tersisa. Namun tak lama kemudian handphone-ku berdering rupanya ada sebuah panggilan masuk. Aku membaca nama kontaknya dan tertulis nama Eulia dengan foto kontak berlatarkan amarilis. Aku terkejut namun ku buat sedemikian rupa agar tidak terkesan salah tingkah. Aku memandang Iva tepat di matanya sambil meminta mengangkat handphone-ku dan menghindar darinya.

Baca juga:
Pencuri Level Tujuh

“Halo, I miss you.”
“I miss you too.”
“Apa kabar?”
“Kabar baik,” sahutku.
“Bagaimana, apakah kamu sudah memutuskan untuk kuliah di sana?”
“Tidak, itu belum pasti.”
“Lalu?”

“Nanti akan aku jelaskan semuanya di lain waktu. Untuk sementara tidak bisa, aku masih ada urusan penting, dan maaf aku tidak bisa melanjutkan pembicaraan kita!”
“Please, aku hanya meminta waktumu sepuluh menit saja setelah itu kau boleh mematikannya.”
“Maaf, untuk saat ini aku tidak punya banyak waktu!” kataku, sambil memencet tombol merah di handphone-ku. Lima menit masih tersisa di udara dan aku tidak tahu kegelisahan Eulia sebab pembicaraan kami baru berlangsung lima menit yang lalu.

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini