510 Hektare Terbakar, Akses Jadi Kendala Pemadaman Karhutla

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Luasan lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya hingga Kamis (3/9/2026) mencapai sekitar 510 hektare. Pemerintah kota menyebut persoalan akses menuju sejumlah titik api menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.

Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan, karakter geografis Palangka Raya membuat penanganan karhutla tidak mudah. Sejumlah titik api berada di kawasan yang jauh dari akses kendaraan, bahkan berada di tengah kawasan berhutan dengan kondisi tanah yang gembur.

“Kesulitan di Kota Palangka Raya itu adalah mencari lokasi. Lokasinya di tengah, memang tidak bisa mobil, tidak bisa kendaraan, tidak ada akses jalan. Dan mungkin tanahnya juga terlalu gembur,” kata Fairid, Kamis (3/9/2026).

Kondisi tersebut juga menyulitkan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan air untuk pemadaman. Menurut Fairid, muka air tanah di sejumlah wilayah Palangka Raya saat ini sudah berada di luar kondisi normal.

Jika sebelumnya sumber air dapat ditemukan pada kedalaman sekitar 10 hingga 15 meter, kini kedalamannya disebut telah mencapai sedikitnya 20 meter. “Biasanya dulu 10 sampai 15 meter maksimal sudah mendapatkan air. Sekarang ini sudah minimal 20 meter,” ujarnya.

Pembuatan sumur bor sebenarnya tetap memungkinkan dilakukan. Namun, proses tersebut membutuhkan peralatan, mesin, genset dan sarana pendukung lain yang menjadi persoalan ketika lokasi titik api tidak dapat dijangkau kendaraan.

“Kalau kita mengebor itu ada, cuma membawa peralatan sarpras, selanjutnya genset juga akan diperlukan kalau jauh,” jelasnya.

Karena itu, penggunaan teknologi lain seperti drone juga menjadi salah satu kemungkinan yang dipertimbangkan untuk membantu penanganan di lokasi yang sulit dijangkau. Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan dukungan anggaran.

Di sisi lain, penanganan karhutla juga diarahkan untuk mencegah api menjalar ke kawasan Taman Nasional Sabangau. Personel TNI dan Polri turut diperbantukan untuk memperkuat penanganan di kawasan tersebut.

Fairid menyebut salah satu kondisi terparah terjadi pada Minggu lalu ketika operasi udara sempat terkendala karena pesawat tidak dapat terbang. Namun, dalam perkembangan terakhir operasi penerbangan untuk mendukung penanganan telah kembali berjalan. “Sekarang kan sudah mulai terbang,” katanya.

Fairid menegaskan, penurunan kondisi karhutla saat ini belum berarti kebakaran telah berakhir. Pemerintah masih terus melakukan penanganan untuk menekan titik api dan mencegah munculnya kebakaran baru. (daw)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *