Pulang Pisau, Kantamedia.com – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau masih terus bergulir. Kendati petugas berjibaku siang dan malam, bara api yang tertanam di bawah lapisan dalam tanah gambut memicu kebakaran belum dapat dijinakkan sepenuhnya hingga Sabtu (11/7/2016) pagi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulang Pisau, Herman Wibowo, mengungkapkan bahwa tim gabungan di lapangan masih mendeteksi keberadaan sejumlah titik api yang aktif. Guna mengantisipasi perluasan dampak, satgas gabungan langsung mengintensifkan strategi penanganan di area terdampak.
“Titik api masih aktif saat melakukan pemantauan di lapangan. Karena itu, operasi pemadaman dilanjutkan pagi ini fokus pada pemadaman api, pendinginan area yang telah dipadamkan, serta patroli untuk mencegah munculnya kebakaran baru,” jelas Herman saat mengonfirmasi situasi terkini di lapangan.
Sebelum diterjunkan ke titik-titik krusial, seluruh personel terlebih dahulu mengikuti apel pagi demi mematangkan pembagian tugas. Skema pemadaman Karhutla pun disusun secara taktis berdasarkan hasil pemetaan kondisi terkini dan arah pergerakan api.
Guna mempercepat proses lokalisasi api, operasi kemanusiaan ini disokong oleh armada dan peralatan lengkap. Petugas memanfaatkan mesin pompa air bertekanan tinggi, perahu untuk menyusuri jalur perairan, selang pemadam perimeter, pesawat nirawak (drone) untuk memantau sebaran asap, serta alat komunikasi nirkabel sebagai pemandu koordinasi lapangan.
Kekuatan personel yang dikerahkan melibatkan kolaborasi masif lintas sektor. Puluhan petugas gabungan dari BPBD Kabupaten Pulang Pisau, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Satgas Udara, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, KPHP Kahayan Hilir, bersama jajaran TNI dan Polri bahu-membahu menjinakkan amukan api di darat maupun udara.
Kendala terbesar yang dihadapi tim di lapangan adalah karakteristik lahan gambut kering yang menyimpan bara api di bawah permukaan, sehingga api sewaktu-waktu dapat menyembur kembali ke atas. Tantangan ini diperparah oleh suhu udara yang ekstrem, hembusan angin kencang yang kerap berubah arah secara mendadak, serta menipisnya sumber air di sekitar lokasi kejadian.
“Luas area yang terbakar masih dalam proses pendataan dan akan diukur setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan yang jelas total di atas 31 hektare,” tutur Herman mengenai estimasi sementara dampak kerusakan lahan.
Herman menambahkan bahwa kondisi fisik lahan gambut mengharuskan personel ekstra waspada karena proses pendinginan membutuhkan pasokan air yang melimpah, sementara distribusi air ke titik terdalam sangat terbatas.
“Hari ini tim gabungan akan terus memperkuat patroli di kawasan rawan, melanjutkan pendinginan secara menyeluruh, serta meningkatkan koordinasi lintas instansi agar kebakaran di Tumbang Nusa segera dapat dikendalikan,” pungkasnya.
Senada juga disampaikan Kapolsek Jabiren Raya Ipda David Fiderson Jaya. Dia menjelaskan bahwa medan gambut yang terbakar memberikan tantangan yang sangat berat bagi seluruh personel di lapangan.
“Kondisi di lapangan saat ini api masih menyebar dan belum sepenuhnya dapat dipadamkan. Jarak dari jalan raya menuju lokasi kebakaran mencapai sekitar 2 kilometer dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki,” ujar Ipda David Fiderson.
Selain kendala jarak, jalur transportasi air yang diandalkan untuk mengangkut peralatan pemadam juga mengalami hambatan serius. Aliran kanal yang surut memaksa para petugas di lapangan untuk mendorong perahu secara manual agar mesin pompa pemadam kebakaran dan perlengkapan lainnya bisa sampai ke titik api.
Selain mengandalkan mesin pompa darat dengan sumber air dari Sungai Kahayan dan kanal, proses pemadaman juga diperkuat melalui pemadaman udara dengan menggunakan helikopter Water Bombing. (*/pri)


