Karhutla dan Kekeringan Ancam Petani, DPRD Minta Aksi Cepat Pemda

Buntok, Kantamedia.com – Kekeringan panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Barito Selatan (Barsel) kini mulai menggerogoti sektor pertanian dan perekonomian warga. Anggota DPRD Barsel H. Lisawanto meminta pemerintah daerah tidak hanya berfokus memadamkan api, tetapi juga bergerak cepat menyelamatkan nasib petani yang terancam gagal panen akibat bencana tersebut.

Lisawanto menilai, dampak karhutla dan kekeringan tahun ini sudah merembet ke persoalan ekonomi masyarakat. Sejumlah lahan pertanian dan perkebunan warga mengalami gangguan produksi, bahkan sebagian berpotensi gagal panen sehingga warga kehilangan sumber pendapatan utama mereka.

“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membantu para petani. Mereka juga merupakan bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah,” kata Lisawanto di Buntok, Selasa (15/9/2026).

Politisi Partai Gerindra ini mendesak Pemerintah Kabupaten Barsel, melalui satuan organisasi perangkat daerah (SOPD) terkait, agar segera turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendataan menyeluruh. Menurutnya, pemerintah wajib mengetahui secara pasti luas lahan pertanian yang terdampak, tingkat kerusakan, hingga besaran kerugian yang dialami warga.

“Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah semuanya parah. Harus dilihat langsung kondisi petani, berapa luas lahannya yang terdampak, dan apa kebutuhan mereka,” tegasnya.

Ia mengingatkan, proses pendataan tidak boleh berhenti sebatas laporan administratif belaka. Data yang terkumpul, lanjutnya, harus dijadikan dasar nyata bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan serta bentuk bantuan yang tepat sasaran bagi masyarakat terdampak.

Menurut Lisawanto, bantuan bagi petani terdampak tidak harus selalu berupa uang tunai. Pemerintah, katanya, bisa menyesuaikan bentuk bantuan dengan kebutuhan riil di lapangan, mulai dari penyediaan benih, pupuk bersubsidi, sarana produksi pertanian, pompa air, hingga pendampingan teknis untuk memulihkan lahan yang rusak.

Selain sektor pertanian tanaman pangan, ia juga menyoroti kondisi perkebunan rakyat, termasuk tanaman karet dan rotan, yang turut terbakar. Menurutnya, kerusakan pada tanaman perkebunan jauh lebih serius dibanding tanaman pertanian musiman karena proses pemulihannya membutuhkan waktu jauh lebih panjang dan secara langsung mengancam pendapatan jangka panjang masyarakat.

“Jangan sampai petani dibiarkan menghadapi kondisi ini sendiri. Ketika produksi mereka terganggu, dampaknya bukan hanya kepada petani, tetapi juga terhadap ketersediaan pangan dan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Lisawanto juga menegaskan pemerintah daerah harus memiliki langkah konkret dan terukur, mulai dari menyelamatkan lahan pertanian yang masih produktif, menyediakan sumber air alternatif, membantu kebutuhan sarana produksi, hingga memulihkan kembali usaha pertanian dan perkebunan masyarakat yang terdampak.

“Petani harus kita lindungi. Jangan hanya diperhatikan ketika masa panen, tetapi juga ketika mereka menghadapi bencana dan kesulitan seperti sekarang,” pungkasnya. (pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *