Wah! Hotspot Karhutla Kalimantan Melonjak 4 Kali Lipat dalam Sehari

Kantamedia.com — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan lonjakan tajam jumlah titik panas atau hotspot akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Dalam rentang waktu satu hari saja, jumlah hotspot tercatat melonjak hingga empat kali lipat.

Data tersebut bersumber dari pemutakhiran Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kemenhut yang memanfaatkan citra Satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Berdasarkan pemantauan pada 17-19 Agustus 2026, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemenhut, Jumat (21/8/2026), perkembangan hotspot di wilayah tersebut tergolong dinamis.

Lonjakan Signifikan pada 19 Agustus

Pada 17 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 93 hotspot di Kalimantan Barat, 28 titik di Kalimantan Tengah, dan dua titik di Kalimantan Selatan, sehingga totalnya mencapai 123 titik. Sehari berselang, komposisinya berubah: Kalimantan Barat justru turun menjadi 15 titik, sementara Kalimantan Tengah naik menjadi 73 titik dan Kalimantan Selatan menjadi 21 titik, dengan akumulasi 109 titik.

Lonjakan drastis kemudian terjadi pada 19 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB. Kemenhut mencatat 259 hotspot di Kalimantan Barat, 242 titik di Kalimantan Tengah, dan 17 titik di Kalimantan Selatan. “Jumlah keseluruhan di ketiga provinsi mencapai 518 titik atau lebih dari empat kali lipat dibandingkan hari sebelumnya,” demikian keterangan Kemenhut.

Secara kumulatif sepanjang 17-19 Agustus, total hotspot berkepercayaan tinggi di tiga provinsi itu mencapai 750 titik, dengan rincian 367 titik di Kalimantan Barat, 343 titik di Kalimantan Tengah, dan 40 titik di Kalimantan Selatan.

Kemenhut mengingatkan, hotspot kategori high confidence menunjukkan tingkat keyakinan deteksi anomali panas yang tinggi, namun bukan representasi langsung jumlah kejadian kebakaran, sebab satu peristiwa kebakaran bisa terdeteksi sebagai beberapa hotspot sekaligus.

“Setiap informasi tersebut tetap diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi, lokasi, penyebab, dan luas area yang terbakar,” tulis Kemenhut.

Jarak Pandang Berbeda Antarwilayah

Kemenhut menegaskan, jumlah hotspot tidak selalu berbanding lurus dengan kepekatan kabut asap di suatu daerah, karena persebaran asap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, kondisi atmosfer, hingga karakteristik lahan. “Data hotspot perlu dianalisis bersama data meteorologi, kualitas udara, citra sebaran asap, dan laporan lapangan,” tulis Kemenhut.

Pihaknya juga mengaku telah menindaklanjuti berbagai laporan masyarakat soal kabut asap dan terbatasnya jarak pandang, termasuk dari Sungai Tabuk, Banjarbaru, Banjarmasin, Palangka Raya, dan Pontianak.

“Visual yang disampaikan masyarakat menggambarkan kondisi nyata pada lokasi dan rentang waktu tertentu serta menjadi masukan penting bagi pemerintah dalam mengarahkan patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman, dan perlindungan masyarakat di wilayah terdampak,” jelas Kemenhut, seraya menambahkan bahwa laporan warga tetap ditangani secara serius meski gambarannya bersifat lokal, bukan kondisi seragam di seluruh Kalimantan.

Data resmi jarak pandang pada 19 Agustus 2026 menunjukkan variasi cukup tajam antarwilayah. Di Bandara Supadio, Pontianak, BMKG mencatat jarak pandang sekitar 1,2 kilometer pada pukul 08.00 WIB akibat asap.

Di Palangka Raya, pengamatan Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG sekitar pukul 07.30 WIB menunjukkan jarak pandang sekitar 3 kilometer, sementara di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, jarak pandang menurun hingga sekitar 400 meter pada pukul 07.00 WITA.

Memasuki 20 Agustus 2026, kondisi di sejumlah wilayah membaik. Jarak pandang di Bandara Supadio tercatat naik menjadi sekitar 4 kilometer, Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sekitar 6 kilometer, sedangkan di beberapa titik Banjarbaru sudah melampaui 10 kilometer.

“Perbaikan tersebut tidak meniadakan kondisi berat yang sebelumnya dialami masyarakat maupun kebutuhan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan,” ujar Kemenhut, seraya menegaskan sifat kabut asap yang dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.

12.880 Personel Diterjunkan

Dalam penanganan karhutla, pemerintah mengerahkan sekitar 12.880 personel gabungan di tiga provinsi terdampak, terdiri atas 1.410 personel di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial di lapangan.

Khusus di Kalimantan Tengah, penanganan turut dilakukan lewat udara melalui water bombing. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dikabarkan telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB guna menambah dukungan armada udara untuk memperkuat operasi pemadaman tersebut. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *